Kiai Syarif tentang Menuntut Ilmu dan Tirakat

1402647937Kiai Syarifuddin dikenal sebagai nama Pondok Pesantren di Desa Wonorejo, Kabupaten Lumajang. Tapi banyak yang tidak tahu cerita di balik sosok tersebut hingga diadopsi sebagai nama pesantren.

Kiai Syarifuddin lahir di Desa Lawean, Kabupaten Probolinggo tahun 1890. Orang tuanya biasa dipanggil Kiai Sekarsari dan Nyai Sekarsari. Tidak ada yang tahu persis nama asli pasangan yang telah melahirkan ulama yang menjadi cikal bakal paku Lumajang itu.

Sejak masih muda, Kiai Syarifuddin memang akrab dengan dunia pesantren. Bahkan waktunya banyak dihabiskan di pesantren, di antanya di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo.

Setelah dewasa, Kiai Syarif –sapaan akrabnya–  diambil menantu oleh Kiai Somber di Dusun Selok Besuki, Desa Wonorejo, Lumajang untuk dinikahkan dengan putrinya, Khosyi’ah.  Di situlah Kiai Syarif bersama mertuanya merintis berdirinya Pesantren “Tahsinul Mubtadi’in” dengan santri awal hanya 3 orang.

Sekuat tenaga Kiai Syarif berjuang meretas kemungkaran yang saat itu masih merajalea di mana-mana. Selain ngopeni santri, Kiai Syarif juga mengobarkan semangat patriotisme melawan penjajah. Untuk menghadapi kemungkaran dan penjajah itu, Kiai Syarif  membekali para pejuang dan santrinya dengan “ilmu kekebalan”.

Sebenarnya Kiai Syarif tidak suka masyarakat terjebak dengan ilmu kekebalan, tirakat atau hal-hal lain sejenisnya. Tapi karena sudah terpaksa,  maka itupun dilakukan. Kepada anak-anaknya sendiri ia malah menganjurkan untuk tidak menggunakan kekebalan. “Kalau kamu cukup baca shalawat saja, akhlaqnya yang baik, insyaallah selamat,” ujar Kiai Syarif seperti ditirukan cucunya, KH. Adnan Syarif.

 Kiai Syarif sangat mencintai ilmu sehingga nyaris semua waktunya tersita untuk mengajar. Baginya, mengajar sangat penting untuk memapah langkah masyarakat agar tidak keliru arah. “Selama saya masih punya akal, saya akan teus mengajar,” tekadnya.

Pernah suatu ketika, Kiai Syarif menegur santrinya yang kedapatan berpuasa tirakat. Bukan benci kepada tirakat, tapi ia ingin menunjukkan bahwa yang lebih penting dari tirakat adalah belajar, apalagi masih muda. “Jangan puasa macam-macam, kecuali yang fardlu. Yang penting ngajinya dulu,” ucapnya.

Di luar itu, Kiai Syarif juga pecinta seni islami. Ini dibuktikan dengan didirikannya kelompok Burdah di pesantren yang dikelolanya. Burdah adalah membaca puji-pujian dan pengagungan asma Allah yang diiringi dengan musik bedug. Ia juga pengagum berat Umi Kulsum, sang legenda gambus asal Mesir.  Saking begitu sukanya kepada Umi Kulsum, sampai-sampai ia mengimpikan keturunannya bisa belajar di Mesir. Dan ternyata kelak, impian itu jadi kenyataan. KH. Adnan Syairf, cucunya belajar di sana selama beberapa tahun.

Di usianya yang senja, ia masih terus mendarmabaktikan ilmunya dengan mengajar dan  mengajar

Akhirnya Allah memanggil Kiai Syarif  untuk kembali kepada Sang Pencipta. Sore itu (1972), ia masih mengajar kitab Fathul Qorib. Kamis malam ketika mau shalat tahajjud, Kiai Syarif terpeleset di kamar mandi, lalu tak sadarkan diri sampai akhirnya Ahad dini hari, ajang menjemputnya.

Untuk mengenang jasanya, para ahli waris Kiai Syarif mengubah nama Pesantren “Tashilul Mubtadi’in”  menjadi Pesantren “Kiai Syarifuddin”.

Kiai Syarif meninggalkan 4 orang putera. Mereka telah dikarunianya 14 anak. Dua diantaranya adalah KH Syuhada Syarif, pernah menjadi Ketua PCNU Kencong (almarhum). Dan KH. Adenan Syarif, pengasuh Pesantren Syarifuddin yang sampai saat ini berkembang cukup  pesat.

Ya, Kiai Syarif tidak hanya patut dikenang di papan nama, tapi juga layak diteladani segala sepak terjangnya dalam kehidupan nyata. (Aryudi A. Razaq)

Sumber : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,13-id,52652-lang,id-c,tokoh-t,Kiai+Syarif+tentang+Menuntut+Ilmu+dan+Tirakat-.phpx

Similar Posts

  • Menjawab Gugatan: “Puasa Tarwiyah Dalilnya Hadis Palsu?”

    Menjawab Gugatan: “Puasa Tarwiyah Dalilnya Hadis Palsu?” Oleh: Ustadz Ma’ruf Khozin, anggota dewan pakar Aswaja NU Center Jatim   Meski Tarwiyah telah lewat, namun sudah menjadi kebiasaan kalau banyak kalangan yang suka menyalahkan amaliah orang lain. Itulah Salafi-Wahabi, yang ilmunya selalu meresahkan bagi umat Islam. Wajar saja jika kajiannya ditolak di banyak tempat. Kali ini…

  • BIDAHKAH PUASA BULAN RAJAB?

      Saat ini kita sudah masuk dalam salah satu bulan yang penuh berkah, yakni bulan Rajab. Biasanya, banyak sekali informasi tentang bulan ini, mulai dari yang menganjurkan mengamalkan berbagai macam ibadah, bahkan ada yang mengklaim bahwa amalan-amalan [termasuk puasa], dianggap bid’ah. Lantas apakah memang demikian? Simak ulasannya berikut ini. Para ulama yang menganjurkan puasa Rajab…

  • Upaya Menghindari Sholat Tidak Khusyu

    Penyebab Sholat Tidak Khusyu Sholat tidak khusyu salah satunya dapat disebabkan karena sikap waswas. Waswas seringkali muncul saat orang sedang melakukan ibadah sholat, meskipun tidak menutup kemungkinan muncul di ibadah lainnya. Waswas merupakan sebuah penyakit yang bersumber dari setan. Orang yang waswas ketika sholat biasanya akan mengulangi-ulangi gerakan takbiratul ihram, bacaan niat, maupun bacaan lainnya dalam…

  • Sekelumit Penjelasan tentang Qunut

    Sekelumit Penjelasan tentang Qunut M Luqmanul Hakim SP.dI (Tim Narasumber PW Aswaja NU Center Jatim)   Sebagaimana diketahui, qunut adalah  amal sunnah yang menjadi tradisi kaum muslimin utamanya di tanah air. Ibadah tersebut biasa dilakukan saat Shalat Shubuh, maupun pada separuh terakhir  Shalat Tarawih. Juga kerap dilaksanakan ketika terjadi musibah yang menimpa kaum muslimin. Bagaimanakah sebenarnya pandangan syariat dalam masalah qunut ini? Mengingat sampai saat ini masih saja ada sejumlah kalangan yang mempertanyakan status hukumnya. Perlu…

  • |

    RA Kartini Mengaji Kitab Faidhur Rahman

    RA Kartini Mengaji Kitab Faidhur Rahman – Kiai Salah Darat memulai dengan tafsir bismillaahirrahmaanirrahiim. Semua makhluk mendapat sifat rahman Allah SWT. Maka semua makhluk seharusnya juga memiliki jiwa  atau sifat rahman (kasih sayang). Firman Allah ta’ala bil mu’miniina ra’uufun rahim (artinya dalam diri orang-orang mukmin itu terdapat jiwa belas kasihan dan penyayang). Prof. DR. HM. Muchoyyar,…

  • A. Wahid Hasyim, NU dan Islam

    Ditulis oleh KH. Abdurrahman Wahid Jumat, 9 Oktober 1998 Soewarno adalah seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun dan bertugas di Corp Polisi Militer (CPM) Yogyakarta di bawah pimpinan Sakri Soekiman di masa revolusi. la adalah prajurit biasa yang sering dipindahtugaskan dari satu tempat ke tempat lain di berbagai kesatuan dari masa itu. Yang paling mengesankan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *