Nasional
Pasca reformasi bergulir, berbagai macam aliran dan ideologi baik yang tumbuh dari spirit Barat maupun Islam muncul ke permukaan, baik aliran yang embrionya telah lama ada dalam tubuh masyarakat Islam Indonesia, maupun ideologi-ideologi baru yang di import dari luar dengan pola gerakan transnasional dan radikal. Indonesia menjadi ajang pertarungan berbagai macam ideologi yang kebanyakan bertentangan dengan spirit Islam maupun keindonesiaan. Ideologi fundamentalis bercorak radikal, dengan bersuara lantang seringkali mengklaim bahwa kelompoknya berada di garis yang paling benar dan paling sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Kelompok di luar dirinya dianggap sesat, ahli bid’ah, musyrik, dan anti memperjuangkan syariat.
Nahdlatul Ulama yang sedari awal berdiri mengikuti ajaran Ahlussunnnah Wal Jamaah yang mengusung filosofi tawassut(moderat), tawazun(seimbang), tasamuh(toleran) serta ta’adul (tegak lurus) dalam beragama, ikut menjadi sasaran serangan kelompok-kelompok baru yang cenderung ekstrim tersebut. Mereka menuduh Nahdlatul Ulama mengajarkan ajaran Islam yang tidak murni, memasukkan nilai-nilai di luar Islam dalam beberapa ritual keagamaan. Gerakan-gerakan radikal yang bercorak transnasional ini semakin lama semakin kuat dan terus melebarkan sayapnya di segala penjuru Indonesia. Varian dari kelompok-kelompok ini begitu banyak, meski memiliki perspektif berbeda termasuk dalam detail pemahaman keagamaan, namun tujuan gerakan yang dibangun cenderung sama, yakni formalisasi syariat Islam.
Untuk mencapai tujuan tersebut, kelompok-kelompok garis keras ini menggunakan segala cara, bahkan tidak jarang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Menuduh sesat dan kafir kelompok lain yang tidak sefaham. Bahkan kekerasan atas nama agama adalah hal yang biasa dalam pandangan mereka. Fenomena teror bom, perampokan bank seringkali melibatkan kader-kader mereka dengan pembenaran yang didasarkan pada penafsiran al-Qur’an maupun al-Hadis sesuai dengan kehendak mereka.
Dan akhir-akhir ini muncul IS (Islamic State) yang dahulunya populer dengan ISIS yang sangat ekstrim, serta berupaya merekrut anggota baru dari Indonesia. Dan masih banyak aliran dan ideologi lain yang mengusung ideologi Transnasional dan anti NKRI, serta aliran sesat yang juga banyak bermunculan. Dari fenomena tumbuh suburnya berbagai aliran Islam radikal bercorak transnasional tersebut, disamping berdampak tereduksinya nilai-nilai ajaran Islam, dalam konteks Indonesia juga berpotensi memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini relatif aman dan damai di bawah payung NKRI. Nahdlatul Ulama yang telah ikut berjuang memberikan kontribusi besar dalam mendirikan Negara Indonesia serta selalu terlibat aktif mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia, merasa ikut bertanggung jawab atas munculnya kelompok-kelompok baru yang mengusung ideologi yang cenderung berpotensi merusak tatanan Islam dan bangsa Indonesia tersebut.
Nahdlatul Ulama sebagai ormas keagamaan yang selalu memperjuangkan Islam toleran ala Ahlussunnah Wal Jamaah menyadari jika ideologi Aswaja tidak dikokohkan dalam jiwa masyarakat Islam khsususnya di Indonesia, dampaknya adalah Islam tidak lagi rahmatan lil alamin, namun rahmatan lil hizbiyyin (kelompok). Nahdlatul Ulama juga menyadari hingga saat ini sebagai satu-satunya ormas yang berada di garda depan pembela Pancasila dan NKRI, jika tidak ikut mengawal umat Islam Indonesia, niscaya bangsa ini akan tercabi-cabik karena pertikaian antar golongan. Potensi disintegrasi bangsa akan meluluhlantahkan bangsa Indonesia yang telah dibangun oleh masyarakat Indonesia yang banyak dimotori oleh para ulama yang mayoritas berfaham Ahlussunnah Wal Jamaah.
Wawasan kebangsaan Ahlussunnah Wal Jama’ah selaras juga dengan pandangan NU yang pada 1983 dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo oleh para ulama dinyatakan secara gamblang bahwa Pancasila dan NKRI adalah final. Tokoh NU kharismatik almarhum KH As’ad Syamsul Arifin jauh sebelum Muktamar NU di Situbondo telah dengan keras dan lantang menyatakan bahwa ia akan melawan pihak-pihak yang merongrong keutuhan NKRI.
Maka berdasar dari fenomena tersebut, Aswaja NU Center PWNU Jatim sebagai sayap perjuangan Nahdlatul Ulama khususnya dalam penguatan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah, merencanakan mengadakan Dauroh (pelatihan) keaswajaan tingkat nasional dengan peserta perwakilan dari tiap-tiap PWNU seluruh Indonesia. Penyelenggaraan dauroh Aswaja berskala nasional ini juga diharapkan mampu menemukan formula yang dikemudian hari bisa ditindak lanjuti oleh pihak terkait, mendeteksi perkembangan paham-paham non Aswaja, dan terumuskannya kegiatan yang menjadi follow up pada masa berikutnya sebagai upaya menjaga meneguhkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah serta menjaga keutuhan umat Islam dan bangsa..
Akhiron, dengan berbekal mengikuti pelatihan dauroh Aswaja yang diselenggarakan Aswaja NU Center PWNU Jatim ini, diharapkan dari tiap peserta akan menjadi motor penggerak mesin perjuangan Aswaja an-Nahdliyah di wilayah masing-masing.
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqi Siroj menyatakan salut dan bangga atas kehadiran mantan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa dalam pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Jussuf Kalla, Senin (20/10).
Ia juga menyatakan bangga kepada Jokowi yang menyebut Prabowo dan Hatta sebagai “Rekan dan sahabat baik saya.”
“Bahkan saat menyatakan hal itu, Pak Jokowi mendapatkan applaus yang cukup lama dari para hadirin,” kata Said Aqil di kantor PBNU, usai menghadiri pelantikan di gedung MPR/DPR, Senin (20/10) pagi.
Dikatakannya, para pemimpin negeri ini telah menunjukkan contoh yang baik kepada seluruh rakyat Indonesia sehingga transisi kepemimpinan nasional berlangsung aman dan damai.
KH Said Aqil Siroj juga menyampaikan penghargaan kepada Presiden ke-6 Susilo Bambang Yuhoyono (SBY) yang telah mengawal proses transisi demokrasi Indonesia dengan cukup baik.
“Pak SBY luar biasa, selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen, beliau juga telah mengawal demokrasi di Indonesia sehingga berwibawa di tingkat internasional. Tidak ada nyawa melayang dalam proses pergantian kepemimpinan,” katanya.
Terkait isi pidato pertama presiden Jokowi yang disampaikan sesaat setelah pelantikan, Said Aqil mengaku tertarik dengan pernyataan yang eksplisit menyebut profesi nelayan, buruh, petani, para pedagang pasar, para pedagang asongan, dan sopir. “Kita berharap Pak Jokowi merealisasikan janji-janjinya selama kampanye,” katanya.
Dalam pidatonya Jokowi juga menegaskan posisi Indonesia sebagai negara maritim. Seperti Presiden ke-4 RI KH Abdurahman Wahid (Gus Dur), Jokowi juga bertekad mengembalikan kejayaan di laut. ‘Jalesveva Jayamahe‘. “Perlu diingat Gus Dur yang merintis Departemen Kelautan,” kata Kang Said.
Ditambahkan, NU akan selalu berada di belakang pemerintahan yang sah dan mengawal program-program pemerintah yang pro rakyat. (A. Khoirul Anam)
Tuban, NU Online
Banyak generasi muda yang mulai melupakan makanan khas Nusantara. Satu demi satu sejumlah menu andalan daerah akhirnya hilang dari peredaran. Berganti dengan makanan cepat saji yang sebenarnya kurang baik bagi kesehatan.
Kondisi ini mengundang keprihatinan. “Padahal makanan tradisional sebagai makanan khas daerah merupakan salah satu peninggalan dari nenek moyang yang perlu dikenal, dilestarikan serta dikembangkan,” kata Hj Khoiriyah (29/9). Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Widang Tuban Jawa Timur ini bahkan menandaskan bahwa makanan tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan kesehatan, akan tetapi memiliki fungsi sosial budaya yang dapat dijual dan dipromosikan untuk keperluan peningkatan devisa negara dari sektor non migas.
Akan tetapi di era globalisasi, makanan tradisional muncul berdampingan dengan makanan modern produk negara lain dan bahkan hampir tergusur. “Berbagai faktor yang dapat menyebabkan lunturnya kecintaan akan makanan tradisional antara lain kurangnya pengenalan dan pengetahuan tentang makanan tradisional, adanya perubahan gaya hidup, perkembangan ekonomi, dan gencarnya promosi,” tandas alumnus Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.
Sadar dengan keadaan ini nampaknya perlu dilakukan langkah-langkah sebagai upaya yang tidak sekedar melestarikan, tapi mempromosikan secara lebih gencar dengan harapan agar makanan tradisional nantinya tetap digemari masyarakat. Bahkan bila dikelola dengan baik tidak hanya member kebanggaan bagi masyarakat lokal hingga manca negara.
Apalagi Kabupaten Tuban yang terletak di pesisir pantai utara memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor pariwisata. “Sumber daya alam yang tersedia sangat mendukung kewirausahaan bagi masyarakat, khususnya di sektor kuliner” kata alumnus Pasca Sarjana Universitas Islam Lamongan ini. Tuban yang memiliki menu kuliner beragam, dapat dikembangkan dengan baik tentunya apabila didukung kemampuan masyarakat yang memadai, lanjutnya.
Sehingga pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan, salah satunya dengan memberikan keterampilan sebagai modal membuka sebuah usaha sesuai dengan potensi yang ada. “Hal inilah yang menggerakkan kami menyelenggarakan kegiatan ini,” tandasnya.
Karenanya, semenjak Ahad hingga Senin (28-29/9) dilangsungkan pelatihan tata boga. Kegiatan yang berlangsung di kantor PAC Fatayat NU Widang Tuban ini diikuti sejumlah utusan dari pengurus ranting dan pengusaha kuliner setempat.
Kegiatan yang mengambil tema kreasi aneka masakan tradisional Nusantara ini tidak semata memberikan teori bagi peserta, juga langsung melakukan praktik bagaimana mempersiapkan menu hingga penyajian yang sesuai dengan standar layanan.
Diharapkan dengan kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan mengenai berbagai masakan tradisional yang ada di Tuban. Demikian juga yang tidak kalah penting adalah melestarikan budaya tradisional bangsa melalui kuliner.
“Dari pelatihan intensif ini diharapkan akan mampu meningkatkan keterampilan di bidang kuliner dengan sumber daya lokal yang ada,” katanya. Yang juga tidak dilupakan selama kegiatan peserta selalu didorong serta dimotivasi untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui keterampilan di sektor kuliner.
Karena para peserta adalah utusan dari sejumlah kepengurusan ranting maupun masyarakat yang memiliki usaha kuliner, maka diharapkan mereka juga bisa menularkan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan kepada komunitas setempat. “Agar pengetahuan dan pelatihan ini bisa lebih memberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih luas,” pungkasnya.
Keberadaan Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur demikian dirasakan manfaatnya oleh khalayak. Baik dalam membentengi amaliyah warga dari sejumlah rongrongan kalangan ekstrim kiri dan kanan, maupun demi mempersiapkan kader penjaga aqidah di masa mendatang.
Sadar dengan tantangan yang semakin keras itulah, dalam waktu dekat Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur akan melangsungkan sejumlah kegiatan berskala nasional sebagai media untuk konsolidasi. “Ada tiga agenda besar yang akan kita laksanakan dalam waktu dekat,” kata Direktur Aswaja NU Center Jatim, KH Abdurrahman Navis saar rapat evaluasi, Ahad (20/7).
Ketiga kegiatan tersebut adalah konsolidasi antar pegiat Aswaja NU Center di masing-masing kota dan kabupaten se Jawa Timur. “Ini sebagai respon atas sejumlah masukan yang kami terima saat melakukan daurah Aswaja,” kata Kiai Navis, sapaan akrabnya.
Bila tidak ada kendala, kegiatan akan dilangsungkan pertengan bulan September dan menghadirkan sejumlah aktifis Aswaja dari berbagai daerah. “Kita ingin mendengar lebih detail bagaimana tantangan yang dihadapi mereka di daerah saat melakukan dakwah Aswaja,” kata Wakil Ketua PWNU Jatim ini.
Demikian juga kegiatan koordinasi ini menjadi bahan evaluasi terhadap kiprah kepengurusan Aswaja NU Center Jatim dalam melayani kepengurusan di daerah. “Apakah pelayanan kami sudah optimal, atau ada beberapa kekurangan yang bisa disempurnakan demi khidmat kepada umat dan jam’iyah,” ungkapnya.
Dinamika dan ketidakseragaman tantantangan maupun keaktifan kepengurusan Aswaja NU Center di beberapa kota dan kabupaten turut menjadi pertimbangan. “Ada sejumlah kabupaten dan kota yang ternyata demikian aktif, namun kita juga tidak menutup mata akan stagnannya sejumlah kepengurusan Aswaja di daerah,” terang dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Kegiatan kedua yang juga menyita waktu adalah mempersiapkan talk show pada kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang akan dilaksanakan 22 Agustus mendatang. “Kami ingin selalu hadir dalam kegiatan PBNU,” tandas pengasuh sejumlah bahtsul masail di banyak media ini.
Dalam ajang Munas dan Konbes NU ini akan dioptimalkan sebagai sarana mempertegas eksistensi Aswaja NU Center. “Kami juga akan menyebarkan tawaran daurah Aswaja kepada para peserta Munas dan Konbes sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkapnya.
Sedangkan kegiatan ketiga yang cukup menyita perhatian dan tenaga serta dana adalah daurah kader Aswaja tingkat nasional. “Kami masih mempertimbangkan waktu yang tepat untuk kegiatan ini,” katanya.
Dalam bayangan Kiai Navis, daurah kader Aswaja akan berlangsung selama lima hari. “Para peserta adalah utusan dari seluruh provinsi se Indonesia,” terangnya. Kalau ada 33 provinsi dan masing-masing mengirimkan dua utusan, maka akan hadir 66 peserta. “Selebihnya akan kami prioritaskan utusan dari Jawa Timur,” lanjut Kiai Navis.
Karena daurah bersifat nasional, tidak sembarang peserta bisa mengikuti kegiatan ini. “Paling tidak mereka harus menguasai kitab Fathul Mu’in sebagai prasyarat keikutsertaan,” katanya. Karena nantinya para peserta diproyeksikan untuk menjadi trainer bagi keberadaan Aswaja NU Center di provinsi masing-masing. Sejumlah kajian mendalam akan dilakukan selama lima hari tersebut. “Ini tentu berbeda dengan daurah singkat yang biasa diselenggarakan di beberapa tempat,” tandas Kiai Navis.
Kiai Navis berharap agar tiga kegiatan berskala nasional tersebut dapat berjalan sesuai harapan. “Ini tentu saja bukan semata demi keberadaan Aswaja NU Center di Jawa Timur, tapi lebih dari itu yakni demi terjaganya aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah di bumi Nusantara,” pungkasnya.
Surabaya — Kabar cukup menggembirakan bagi komunitas warga Nahdlatul Ulama (NU) serta umat Islam di tanah air karena kini telah hadir MyHalal Indonesia. MyHalal Indonesia adalah sebuah nama merek atau brand halal bagi sejumlah produk makanan dan minuman (mamin) dengan tetap menjunjung kualitas produk, harga yang cenderung lebih terjangkau serta dapat dipercaya konsumen.
Kehadiran MyHalal bisa menjadi penghilang rasa was-was kaum muslimin atas beredarnya sejumlah mamin yang membanjiri pasar. “Barang-barang yang telah berlebelkan MyHalal dapat dipastikan telah memenuhi standar kehalalal dari pihak yang memiliki otoritas serta aman untuk dikonsumsi,” kata M Lutfi Handayani saat jumpa pers Ahad petang, (20/7).
Hal yang juga membedakan dari MyHalal adalah bahwa seluruh produk yang ditawarkan adalah asli buatan anak negeri. “Jadi sejumlah produk yang ditawarkan My Halal bukan barang dari luar negeri yang dipasarkan di tanah air,” tandas KH Muhammad Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua PWNU Jatim saat memberikan sambutan usai peluncuran MyHalal.
Dengan demikian, MyHalal Indonesia akan menjaring dan sangat terbuka terhadap sejumlah produsen makanan dan minuman yang diproduksi oleh warga NU dan masyarakat secara umum untuk dapat dipasarkan secara terbuka. “Inilah nilai lebih yang kami tawarkan dari MyHalal,” kata Ketua Umum Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan, Irnanda Laksanawan.
Peluncuran MyHalal terlihat sangat istimewa karena saat itu berbarengan dengan acara buka puasa bersama kiai dan fungsionaris PWNU, lembaga, badan otonom dan lajnah, gubernur bersama wakil gubernur serta sejumlah utusan dari PCNU se Jawa Timur dan dilaksanakan di kantor PWNU Jawa Timur, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.
Perwakilan dari MyHalal juga turut hadir yakni Nick Ieronimo (CEO), Terry Paule dan Spiro Paule (menejemen) yang ketiganya dari Australia. Juga ada Hj Yayuk Wahyunengseh, Ketua Pusat Koperasi An-Nisa’ Jawa Timur, yang merupakan pimpinan dari koperasi milik PW Muslimat NU Jawa Timur.
Kebanggaan terhadap keberadaan pemilik merk sejumlah produk ini semakin sempurna lantaran dalam kerjasama berikutnya bahwa produk tersebut akan dipasarkan secara lansung ke pelanggan dengan merekrut banyak agen yang mengkoordinasi order atau untuk menjual produk-produk MyHalal ke masyarakat di lingkungannya dan kemudian produk yang dipesan akan dikirim langsung ke rumah konsumen. “Inilah yang kita istilahkan dengan direct selling atau penjualan langsung kepada konsumen, sehingga harga barang akan lebih murah,” ungkap Luthfi.
Kelebihan lain dari MyHalal adalah komitmennya untuk memberikan dana CSR untuk kebutuhan jam’iyah NU atau organisasi muslim lain di tanah air. Terbukti saat acara peluncuran, setidaknya ada 9 panti asuhan yatim piatu di Jawa Timur yang telah menerima bantuan sebesar Rp. 22.000.000,- “Ini merupakan langkah awal dari keterlibatan MyHalal dalam membantu organisasi NU maupun masyarakat muslim dalam jangka panjang,” kata Nick Ieronimo.
Ketua Umum Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan, Irnanda Laksanawan menyadari bahwa para pelaku MyHalal adalah kalangan non muslim. Namun demikian, tidak ada salahnya belajar dari orang lain untuk kebaikan bagi diri dan organisasi. “Kami melihat ada kesempatan untuk bekerja dengan perusahaan kelas dunia untuk membawa manfaat langsung kepada masyarakat Indonesia,” kata Irnanda. “MyHalal menawarkan kepada konsumen, produk made in Indonesia kelas dunia dan bermerek islami,” lanjutnya.
Dengan peluncuran MyHalal Indonesia ini diharapkan kaum muslimin dan warga NU tidak lagi was-was saat memeilih dan menentukan produk halal yang ada di pasaran. Apalagi tulisan MyHalal akan dibuat lebih dominan dari merek yang ada. “Sehingga dengan demikian, masyarakat NU dan kaum muslimin dapat dengan mudah mengenal serta memilih produk halal yang terjangkau dan berkualitas tinggi,” tandas Irnanda.
Sementara ini, untuk tahap awal makanan dan minuman yang diedarkan MyHalal berupa beras, kecap manis, saos tomat, teh, gula, sirup, garam, mie instan, biskuit, aneka makanan ringan, pelembab dan susu bayi serta sambal. “Selanjutnya dalam tiga bulan mendatang akan menyusul sejumlah produk makanan pokok dan produk perawatan kecantikan,” kata Luthfi.
Menghadapi pasar bebas dalam waktu dekat, ikhtiar dari Koperasi Mabadiku Bintang Sembilan yang menggandeng MyHalal adalah langkah nyata bagi pemberian rasa aman dan nyaman bagi kaum muslimin di tanah air dengan kemudahan menemukan produk halal yang terjangkau. Demikian juga upaya ini menjadi jawaban kongkrit bagi perekonomian warga dan jam’iyah NU di sejumlah kawasan. Semua jawaban itu ada di produk MyHalal.
Muslimedianews.com, Jakarta ~ Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan pertemuan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta dengan peserta sekitar 1500 orang. Pertemuan yang akan berlangsung Rabu (28/5) sampai sampai Ahad (1/6/2014) dikemas dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Muslimat NU.
Menurut Sekretaris Umum Pimpinan Muslimat NU Hj Aniroh Slamet Effendi Yusuf, kegiatan tersebut dihadiri tak kurang dari 1.135 peserta dari pengurus pusat, wilayah, dan cabang, serta yayasan yang bernaung dibawah Muslimat NU.
Aniroh menyebutkan yayasan tersebut, yaitu Yayasan Kesejahteraan Muslimat (YKM) NU, Yayasan Pendidikan Muslimat (YPM) NU, Yayasan Haji Muslimat NU/Ikatan Haji Muslimat (YHM/IHM) NU, Yayasan Da’iyah Majlis Taklim Muslimat (HIDMAT) NU, dan Koperasi Annisa Muslimat NU yang masing-masing berasal dari 33 wilayah atau provinsi.
“Itu yang resmi diundang. Tapi sepertinya yang hadir sekitar 1500 Muslimat NU dari seluruh Indonesia karena mereka biasanya membawa taman,” ungkapnya, pada “Ta’aruf Peserta Rakernas dan Mukernas NU dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo” di aula Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Selasa malam (27/5).
Apa yang dikatakan Aniroh, diakui Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Menurut dia, peserta yang datang melebihi dari undangan, “Yang tadinya satu kamar untuk 8 orang, dihuni 20 orang,” katanya.
Bahkan, menurut Khofifah, pada pembukaan Rakernas yang akan berlangsung Rabu siang (28/5) oleh Wakil Presiden Boediono, sekitar 2000 Muslimat NU se-Jabodetabek akan hadir ke Asrama Haji. Kegiatan bertema “Muslimat NU Berkhidmah untuk Indonesia Bermartabat” tersebut dihadiri Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Alwi Shihab, Hj Aisah Hamid Baidlowi, Dorce Gamalama. (Abdullah Alawi)
Sumber : nu.or.id
Pati, NU Online
Keluarga besar Yayasan Pendidikan Sunan Prawoto di desa Prawoto kecamatan Sukolilo, Pati mengadakan upacara tasyakuran dalam rangka memperingati harlah ke-91 Nahdlatul Ulama. Puluhan pelajar dan dewan guru mulai dari tingkat raudhatul athfal hingga aliyah di bawah naungan yayasan ini tampak khidmat mengikuti upacara itu.
Upacara tasyakuran digelar Jumat (16/5) pagi. Mereka terdiri atas pelajar dan guru dari RA Masyithoh, MI Al-Mukmin, MI Al-Hidayah, MTs Sunan Prawoto, MA Sunan Prawoto, PAUD Masyithoh, TPA Al-Hidayah, Madin Awwaliyah, dan Madin Wustho.
Dalam amanat upacara, Ketua Ranting NU Prawoto KH Ali Makmun mengingatkan para guru dan ustadz di Yayasan Sunan Prawoto untuk betul-betul menanamkan ajaran Ahlussunah wal Jamaah.
“Dengan aswaja NU, insya Allah akan lahir generasi-generasi muda berkualitas, berprestasi serta berakhlaqul karimah,” kata Kiai Ali.
Upacara yang juga dihadiri Banser, Ansor, Fatayat, Muslimat NU Prawoto ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin sesepuh yayasan KH Muhammad Husain. (Kholid Rosyadi/Alhafiz K)
http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,52065-lang,id-c,daerah-t,Puluhan+Pelajar+Sunan+Prawoto+Peringati+Harlah+ke+91+NU-.phpx





