Originally posted on 29 March 2021 @ 18:48
Utama
Doa Malam Nishfu Sya’ban
Syekh Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan bin Jarir Adh-Dhabi (wafat 195 H) meriwayatkan:
ﺣﺪﺛﻨﺎ اﺑﻦ ﻓﻀﻴﻞ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺇﺳﺤﺎﻕ، ﻋﻦ اﻟﻘﺎﺳﻢ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ، ﻗﺎﻝ: ﻛﺎﻥ اﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﻳﺪﻋﻮ , ﻳﻘﻮﻝ:
Ibnu Fudhail telah berkata kepada kami, Abdurrahman bin Ishaq telah berkata kepada kami, dari Qasim bin Abdurrahman. Bahwa Ibnu Mas’ud berdoa:
«اﻟﻠﻬﻢ ﻳﺎ ﺫا اﻟﻤﻦ، ﻭﻻ ﻳﻤﻦ ﻋﻠﻴﻚ , ﻳﺎ ﺫا اﻟﺠﻼﻝ ﻭاﻹﻛﺮاﻡ، ﻳﺎ ﺫا اﻟﻄﻮﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺃﻧﺖ , ﻇﻬﺮ اﻟﻻﺟﺌﻴﻦ، ﻭﺟﺎﺭ اﻟﻤﺴﺘﺠﻴﺮﻳﻦ، ﻭﻣﺄﻣﻦ اﻟﺨﺎﺋﻔﻴﻦ.
Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut
ﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﻡ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﺃﻧﻲ ﺷﻘﻲ , ﻓﺎﻣﺢ ﻣﻦ ﺃﻡ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﺷﻘﺎﺋﻲ، ﻭﺃﺛﺒﺘﻨﻲ ﻋﻨﺪﻙ ﺳﻌﻴﺪا، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺃﻡ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﺃﻧﻲ ﻣﺤﺮﻭﻡ ﻣﻘﺘﺮ ﻋﻠﻲ ﻣﻦ اﻟﺮﺯﻕ , ﻓﺎﻣﺢ ﻣﻦ ﺃﻡ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﺣﺮﻣﺎﻧﻲ ﻭﺇﻗﺘﺎﺭ ﺭﺯﻗﻲ، ﻭﺃﺛﺒﺘﻨﻲ ﻋﻨﺪﻙ ﺳﻌﻴﺪا ﻣﻮﻓﻘﺎ ﻟﻚ ﻓﻲ اﻟﺨﻴﺮ، ﻓﺈﻧﻚ ﻗﻠﺖ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻚ المنزل ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻚ: {ﻳﻤﺤﻮ اﻟﻠﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺎء ﻭﻳﺜﺒﺖ ﻭﻋﻨﺪﻩ ﺃﻡ اﻟﻜﺘﺎﺏ}[ اﻟﺮﻋﺪ: 39] »
Jika aku tertulis di dalam Lauh Mahfuz (catatan takdir) bahwa aku celaka maka haruslah dan jadikan aku orang yang beruntung. Jika aku tercatat di Lauh Mahfuz sebagai orang yang terhalang dan sempit rezekinya maka hapuslah halangan itu dan sempitnya rezeki dan jadikan aku di sisi Mu sebagai orang yang beruntung dan mendapat pertolongan kebaikan
Engkau telah berfirman dalam kitabMu yang diturunkan kepada Nabi Mu: Allah menghapus apa yang Ia kehendaki dan Ia menetapkan, di sisiNya ada Lauh Mahfuz (Ar-Ra’d 39).
ﻗﺎﻝ: «ﻓﻤﺎ ﻗﺎﻟﻬﻦ ﻋﺒﺪ ﻗﻂ ﺇﻻ ﻭﺳﻊ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻓﻲ ﻣﻌﻴﺸﺘﻪ»
Ibnu Mas’ud berkata: Tiada yang membaca doa ini kecuali Allah lapangkan kehidupannya (Kitab Ad-Dua’ Ibnu Adh-Dhabi)
•] Ngaji online disertai penjelasan tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban.
Oleh: Kiai Ma’ruf Khozin
Originally posted on 28 March 2021 @ 10:10
Di Bulan Sya’ban Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melakukan puasa, ada yang mengatakan penuh sampai disambung dengan Ramadhan, ada pula yang mengatakan sebagian besar. Mengapa Rasûlullâh mengistimewakan Sya’ban dengan puasa sunah?
Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam menjawab dengan 2 alasan:
Bulan Laporan Amal
ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﻬْﺮٌ ﺗُﺮْﻓَﻊُ ﻓِﻴﻪِ اﻷَْﻋْﻤَﺎﻝُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺏِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ، ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﻋﻤﻠﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ
“Sya’ban adalah bulan diangkatnya (dilaporkan) amal kepada Tuhan yang menguasai seluruh alam. Maka saya senang saat amal saya dilaporkan saya sedang berpuasa” (HR An-Nasa’i)
Bulan Catatan Ajal
ﻗَﺎﻝَ: ” ﺇِﻥَّ اﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻧَﻔْﺲٍ ﻣﻨﻴﺔ ﺗِﻠْﻚَ اﻟﺴَّﻨَﺔَ، ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻴَﻨِﻲ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ».
“Sesungguhnya Allah menentukan kematian setiap jiwa pada tahun itu (ditentukan di bulan sya’ban). Maka saya senang jika ajal mendatangi saya dalam keadaan berpuasa”
Terkait status hadis ini diberi penilaian oleh Al-Hafidz Al-Haitsami:
ﺭَﻭَاﻩُ ﺃَﺑُﻮ ﻳَﻌْﻠَﻰ، ﻭَﻓِﻴﻪِ ﻣُﺴْﻠِﻢُ ﺑْﻦُ ﺧَﺎﻟِﺪٍ اﻟﺰَّﻧْﺠِﻲُّ، ﻭَﻓِﻴﻪِ ﻛَﻼَﻡٌ، ﻭَﻗَﺪْ ﻭُﺛِّﻖَ.
“Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Didalamnya terdapat perawi bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji (guru dari Imam Syafi’i), ia dikomentari oleh ulama lain dan juga ada yang menilai perawi terpercaya”
ﻭﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺷﻌﺒﺎﻥ ﻛﺎﻟﻤﻘﺪﻣﺔ ﻟﺮﻣﻀﺎﻥ ﺷﺮﻉ ﻓﻴﻪ ﻣﺎ ﻳﺸﺮﻉ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻣﻦ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻴﺤﺼﻞ اﻟﺘﺄﻫﺐ ﻟﺘﻠﻘﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﻭﺗﺮﺗﺎﺽ اﻟﻨﻔﻮﺱ ﺑﺬﻟﻚ ﻋﻠﻰ ﻃﺎﻋﺔ اﻟﺮﺣﻤﻦ
Sya’ban seperti pintu masuk menuju Ramadhan, maka hal-hal yang dianjurkan di bulan Ramadhan juga dianjurkan dilakukan di bulan sya’ban, seperti puasa dan baca Qur’an. Agar siap menghadapi Ramadhan dan jiwa terlatih menghadapi Ramadhan untuk taat kepada Allah yang Maha Rahman (Ibnu Rajab Al-Hanbali, Lathaif Al-Ma’arif 1/135)
Kiai Ma’ruf Khozin
Originally posted on 28 February 2021 @ 04:01
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/117395/makna-fisik-dan-non-fisik-dalam-pembahasan-sifat-allah
Originally posted on 12 February 2021 @ 18:13
Mengumandangkan adzan untuk bayi yang baru dilahirkan hukumnya adalah sunnah. Begitu pula dengan iqamah, para ulama telah sepakat bahwa hukumnya sunnah .
ويندب الأذان لأمور أخرى غير الصلاة منها الأذان فى أذن المولود اليمنى عند ولاد ته كما تندب الاقامة فى اليسرى. (الفقه الاسلامى وادلته, ج 1 ص 561)
“Adzan juga disunnahkan untuk perkara yang selain shalat, diantaranya adalah adzan di telinga kanan anak yang baru dilahirkan. Seperti halnya sunnah untuk melakukan iqamah ditelinga kirinya.” (Al-Faqih al Islami wa Adillatuh, Juz I, hal 561).
Disamping itu, kesunahan ini dapat diketahui dari sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’:
عن عبيدة الله بن را فع عن ابيه قال رايت رسول الله صلّى الله عليه وسلم أّ ذّن فى أذن الحسن بن عليّ حين ولدته فاطمة با لصلاة. (سنن ابى داود, رقم 4441)
“Dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ RA, dari ayahnya. ‘Aku melihat Rasulullah SAWmenguamandangkan Adzan di telingan Husain bin Ali RA ketika Siti Fatimah melahirkannya. (yakni) dengan adzan shalat.” (Sunan Abi Dawud, 4441)
Fadhilah Adzan Untuk Bayi yang Baru Dilahirkan
Lalu tentang fadhilah dan keutamaannya, Sayyid ‘Alawi al-Maliki menyatakan:
الأول فعله فى أذن المولود عند ولا د ته في أذنه اليمنى والاقامة في اذ نه اليسرى. وهذا قد نصّ فقهاء المذهب على ند به. وجرى به عمل العلماء الامصار بلا نكير. وفيه مناسبة تا مّة لطرد الشيطان به عن المولود ولنفورهم وفرارهم من الاذان كما جاء في السنّة. (مجموع فتاوىورسائل,112 )
“Yang pertama, mengumandangkan adzan di telinga kanan anak yang baru lahir, lalu membacaka iqomah di telinga kirinya. Ulama telah menetapkan bahwa perbuatan ini tergolong sunnah. Dan mereka yang telah mengamalkan perbuatan tersebut tanpa seorang pun yang mengingkarinya. Perbuatan ini ada relevansi yang sempurna untuk mengusir syetan dari anak yang baru lahir tersebut. Karena syetan akan lari terbirit-birit ketika mereka mendengar adzan, sebagaimana keterangan yang ada dalam hadits.” (Majmu’ Fatawi wa Rasa’il, 112).
Menjadi jelas bahwa adzan untuk bayi yang baru dilahirkan itu memang sunnah hukumnya. Salah satu fungsinya adalah untuk mengusir setan dari anak yang baru lahir tersebut.
Originally posted on 11 November 2017 @ 14:36
Isra’ adalah perjalanan di malam hari dari Masjid al-Haram (Makkah) ke Masjid a-Aqsha (Palestina). Sedangkan Mi’roj adalah naik ke langit, sampai ke langit ang tujuh bakan ke tempat yang paling tinggi yaitu Sidrah al-Muntaha. Peristiwa luar bisa itu terjadi pada malam senin tanggal 27 Rajab 621 M, satu tahun sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah. Allah berfirman :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (الاسرأ ,1)
“Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsayang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kekuasaan) kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (al-Isra’ : 1)
Secara gamblang, ayat ini menyatakan bahwa Allah SWT telah memberangkatkan hambanya untuk melakukan safari suci, yaitu isra’ mi’raj. Redaksi yang digunakan adalah kata ‘abdih’ (hambanya). Yang disebut hamba terdiri dari ruh dan jasad. Jasad tanpa ruh dikatakan mayit dan jasad tanpa ruh tidak bisa dikatakan manusia. Karena yang diberangkatkan oleh Allah SWT adalah seorang hamba termulia, yaitu Nabi Muhammad SAW, maka sudah tentu yang melakukan perjalanan itu adalah ruh sekaligus jasadnya. Hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Sangat mungkin sekali, sebab beliau berangkat tidak dengan kemauannya sendiri, akan tetapi Allah SWT yang berkehendak. Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT jika Dia berkehendak.
Ibarat seekor semut yang ‘menumpang’ naik pesawat terbang dari Jakarta menuju Surabaya, kemudian kembali lagi ke Jakarta. Yang pasti, kaum semut tidak akan percaya akan cerita si semut yang telah melakukan perjalanan dalam waktu sesingkat itu. Tapi hal itu sangat mungkin terjadi, sebab dia memakai kendaraan yang kecepatannya tidak pernah terbayang oleh kaum semut. Begitu pula dengan isra’ mi’raj Nabi SAW, peristiwa tersebut tidak akan terbayang oleh akal Manusia, sebab yang digunakan Nabi SAW adalah kendaraan yag kecepatannya di luar jangkauan serta tidak pernah terbayangkan oleh akal manusia, yakni Buroq.
Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasadnya. Imam Nashiruddin Abu al-Khair ‘Abdullah bin Umar al-Baidhawi mengatakan bahwa:
واختلف في أنّه كان فى المنام أو فى اليقظة بروحه أوجسده, والاكثار على أنّه أسري بجسده الي بيت المقدس ثم عرج به الى السموات حتّى انتهى الى سدرة المنتهى. (أنوار التنزيل وأسرار التأويل, 1 ص 576)
“Dan diperselisihkan apakah isra’ dan mi’raj terjadi pada waktu tidur (sekadar mimpi belaka) ataukah dalam keadaan sadar? Dengan ruh (saja) atau sekaligus ruh dan jasadnya? Mayoritas ulama berpendapat bahwa Allah SWT meng-isra’ kan Nabi SAW dengan jasadnya (dari Masjid al-Haram) ke Bait al-Maqdis kemungkinan menaikkan beliau ke beberapa langit sampai berhenti di Sidrah al-Muntaha. (Anwar an-Tanzil wa Asrar al-Tanwil, Jus I, hal 576).
Paparan itu menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ mi’raj dengan jasad dan ruhnya. Sepintas muncul pertanyaan di benak kita, bisakah hal itu? Pertanyaan ini sejak awal terjadi. Orang-orang Quraisy Makkah yang mempercayai peristiwa ajaib tersebut hanya Abu Bakar RA dan beberapa orang yang kokoh imannya yang kangsung mengimaninya dan bahkan Abu Bakar RA berkata, “Jangankan peristiwa itu, lebih aneh dari itupun aku percaya, kalau Nabi Muhammad SAW yang mengatakannya”. Itulah sebabnya beliau diberi gelar al-Siddiq.
Originally posted on 11 November 2017 @ 14:30
Bid’ah
Belakangan begitu gencar tudingan bid’ah pada seseorang atau kelompok tertentu. Yang satu menyatakan bahwa kelompok yang tidak sepaham dengannya maka ia melakukan bid’ah, sehingga mereka tersesat dan ‘berhak’ masuk neraka. Sementara yang lain juga menuding bahwa kelompok lain mengembangkan bid’ah. Saling tuding inlah yang menyebabkan umat islam mengalami perpecahan. Apakah sebetulnya bid’ah itu? Dan apakah memang benar bahwa bid’ah itu berkonotasi dengan hal yang negatif, sehingga harus dihilangkah dari muka bumi ini?
Menurut Imam Abu Muhammad Izzuddin bin Abdissalam, bid’ah adalah:
البدعة فعل ما لم يعهد فى عصرى رسول الله صلى الله عليه وسلم (قواعد الاحكام فى مصالح الانام, ج 2, ص 172)
“Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikenal (terjadi) pada masa Rasulullah SAW. (Qowa’Id a-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Juz II, hal 172)
Macam-macam Bid’ah
Melihat definisi di atas maka cakupan bid’ah itu sangat luas sekali. Mencakup semua perbuatan yang tidah pernah ada pada masa Nabi Muhammad SAW. Karena sebagian besar Ulama membagi bid’ah manjadi lima macam:
- Bid’ah wajibah, yakni bid’ah yang dilakukan untuk mewujudkan hal-hal yang diwajibkan oleh syara’. Seperti mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain-lain. Sebab dengan mempelajari ilmu-ilmu inilah seseorang dapat mempelajari al-Qur’an dan Hadits nabi Muhammad SAW secara sempurna.
- Bid’ah Muharromah, yakni bid’ah yang bertentangan dengan syara’. Seperti madzhab Jabariyah dan Murji’ah.
- Bid’ah mandubah, yakni segala sesuatu yang baik, tapi tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah SAW. Misalnya shalat tarawih secara berjamaahsebulan penuh, mendirikan madrasah dan pesantren.
- Bid’ah Makruhah, seperti menghiasi masjid dengan hiasan yang berlebihan.
- Bid’ah Mubahah, seperti berjabat tangan setelah sholat dan makan-makanan yang lezat. (Qowa’Id a-Ahkam fi Mashalih al-Anam, Juz II, hal 173)
Maka tidak heran jika sejak dahulu para ulama telah membagi bid’ah menjadi dua bagian besar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i RA yang dikutip dari kitab Fath al-Bari:
المحدثات ضربان ما احدث يخالف كتابا او سنّة اوأثرا أواجماعا فهذه بدعة الضّلال وما احدث من الخير لايخالف شيئامن ذلك فهي محدثة غير مذمومة. (فتح البارى, ج 17, ص10)
“Sesuatu yang di ada-adakan itu ada dua macam. (Pertama), sesuatu yang baru itu menyalahi al-Qur’an, sunnah Nabi SAW, Atsar Sahabat, atau Ijma’ Ulama. Ini disebut bid’ah dhalal (sesat). Dan (kedua, jika) sesuatu yang baru termasuk kebajikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma’). Maka, perbuatan tersebut tergolong perbuatan yang baru yang tidak di cela. (Fath al-Bari, Juz VXII, hal 10)
Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Dhalalah
Syaik Nabil Husaini menjelaskan bahwa: “Para ahli ilmu telah membahas permasalahan ini dan membagi menjadi dua bagian. Yakni bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Yang dimaksud dengan bid’ah hasanah adalah perbuatan yang sesuai dengan kitab Allah dan sunnah Rasul.
Keberadaan bid’ah hasanah ini termasuk dalam bingkai sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim, ‘Siapa yang membuat sunnah yang baik (hasanah) dalam agama Islam, amka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan tersebut serta pahala dari orang-orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa yang merintis sunnah jelek (Sayyi’ah), maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan itu dan dosa-dosa orang setelahnya yang meniru perbuatan tersebut, tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa mereka.’
Dan juga berdasarkan hadits shahih yang mauquf, yakni ucapan ‘Abdullah Bin Mas’ud RA, “Setiap sesuatu yang dianggap baik oleh semua muslim, maka perbuatan tersebut baik menurut Allah SWT, dan semua perbuatan yang dianggap buruk oleh orang-orang islam, maka menurut Allah SWT perbuatan tersebut juga buruk.”
Hadits tersebut dishahihkan oleh al-Hafidz Ibn Hajar dalam al-Amali. (al-Bid’ah al-hasanah, wa Ashluha min al-kitab wa al-sunnah, 28).
Originally posted on 11 November 2017 @ 14:26
Penulis: Tim Admin
Oleh: Abdurrohman Kafabihi*
___________
Tulisan ini adalah catatan singkat Agus Iman, panggilan akrab Abdurrohman Kafabihi, tatkala beristifadah ke ndalem Maulana Habib Lutfi bin Yahya, Pekalongan, Jawa Tengah, di bulan Ramadan tahun 1444 H.
___________
Setiap santri sejati pasti ingin mendapatkan berkah dan penenang hati guna menjalani kehidupannya. Selain bisa dilakukan dengan menjalankan shalat lima waktu, shalat berjamaah, berdzikir, dan hal lainnya, kita juga dapat memupuk ketentraman jiwa dengan refleksi pemahaman yang benar dalam memaknai Islam. Mungkin itu salah satu alasan mengapa setiap Ramadan kami menyempatkan diri ke ndalem Maulana Habib Lutfi bin Yahya.
Di sana, biasanya sebelum Abah rawuh untuk menyampaikan ilmu, ada forum diskusi—bertukar informasi ilmiah dari satu musyawirin (peserta musyawarah) ke musyawirin lainnya. Abah adalah panggilan hurmat dan takzim dari para santri Maulana Habib Lutfi bin Yahya kepada beliau. Tak jarang justru saya pribadi lebih banyak istifadah (mengambil faidah) daripada ifadah-nya (memberi faidah). Selanjutnya, Abah datang dan menyampaikan samudra ilmu beliau.
Namun, karena tahun ini Abah Maulana sedang khidmah untuk umat, maka dalam waktu kurang lebih sembilan hari di sana, saya dicukupkan ber-istifadah kepada poro murid Abah senior yang juga menjadi peserta diskusi ilmiah.
Kata guru saya, kita ngaji di Habib Lutfi itu juga ngaji haliyah—perilaku hidup. Kita harus mengerti bahwa Abah juga dibutuhkan orang yg di luar sana. Sementara peserta ngaji di sini sudah lama berguru ke Abah, sedikit banyak sudah lumayan bisa. Akhirnya seyogyanya tetap legowo serta meyakini majelisnya tetap keluberan berkah Abah.
Menurut sumber yang terpercaya, doa yang dipanjatkan Abah Luthfi salah satunya adalah
ربنا اغفر لنا ولوالدينا و لمن دخل بيتي مؤمنا
Wahai Tuhan kami, ampunilah kami, ampunilah kedua orang tua kami, dan ampunilah orang-orang mukmin yang masuk ke rumah kami.
Jadi, meskipun kami dari rumah ingin sowan, atau bahkan mengaji ke Abah dan ternyata gak bisa kepanggih (bertemu, -jw), tidak perlu khawatir. Kami percaya sudah mendapatkan doanya Abah.
Baca Juga: Menghormati Ulama dengan Membungkuk, Bolehkah?
Di sana, seperti yang saya sampaikan, banyak wawasan-wawasan yang sangat penting untuk dicatat. Sebagian tercatat dalam tulisan, sebagian lagi tercatat dalam ingatan.
Salah satu yang saya ingat, di pertengahan mengaji di Ramadan hari ke-25, Agus Said Ridlwan menyampaikan panjang lebar tentang pentingnya takzhim kepada guru. Yang intinya: banyak dari kita terhalang mendapat luberan berkah dari poro auliya’/habaib/kiai karena kurangnya tata krama kita pada beliau.
ليس الحرمان بأن لم ترزق بمصاحبة الأولياء # ولكن الحرمان كل الحرمان أن ترزق بمجاورتهم ولم ترزق الأدب معهم.
Tidaklah disebut sebagai hijab/penghalang (akan sampainya keberkahan untuk kita) jika kita tak bisa mendapat kesempatan bersanding dengan para kekasih Allah. Namun hal yang menjadi penghalangnya adalah ketika kita bisa bersama poro beliau namun tidak disertai dengan adab.
Beliau melanjutkannya dengan menyampaikan ibarat
– إنما قل انتفاع أهل الزمان بالصالحين من حيث قلة التعظيم لهم وضعفُ حُسن الظن فيهم، فحُرِمُوا بسبب ذلك بركاتهم، ولم يُشاهدواكراماتهم حتى توهموا أن الزمان خال عن الله – كثيرون ظاهرون ومخفيون ولا يعرفُهم إلا من نور الله قلبه بأنوار التعظيم وحُسنِ الظن فيهم،وقد قيل: المدد في المشهد . اهـ « المنهج السوي : ١٧١ »
Orang-orang zaman sekarang sedikit sekali yang bisa mendapatkan manfaat dan orang-orang saleh. Karena sedikitnya rasa takzhim mereka kepada orang-orang saleh itu. Juga lemahnya prasangka baik kepada mereka. Maka sebab itulah mereka terhalang dari berkah orang-orang saleh.
Hanya orang-orang yang oleh Allah hatinya diberi cahaya pengagungan dan husnuzhan lah yang mampu mengerti kemuliaan orang-orang saleh. (Al-Manhaj as-Sawi: 171).
أقل الناس نفعا بالشيخ زوجته وولده ونقيبه )، لكثرة مشاهدتهم له ووقوفهم مع ظاهرِ بَشَريتهم دون الوصول إلى معرفة قلبه، وما فيه من الأسرار والمشاهد النفيسةاهـ
Sangat sedikit manusia yang bisa mendapatkan manfaat dari ulama—juga istri, anak dan keturunannya, karena seringnya mereka berkumpul dan bersanding secara fisik, namun tidak sampai di hati mereka.
Salah satu senior peserta ngaji—bapak Zaimul Abror, pada malam Ramadan ke-23 menyampaikan
“Dawuh Abah Lutfi: Orang yang menghafalkan Al-Quran (atau mungkin bisa juga niat istiqamah mendaras Al-Qur’an) itu sejatinya adalah khidmah kepada Al-Qur’an.”
“Kalau kamu ingin berakhlak mulia, maka dekatlah dengan orang yang mulia—tak terkecuali pada yang telah meninggal, dengan cara berziarah.”
Dalam kesempatan lain, saya tanya bertanya kepada Habib Lukman bin Yahya, “Bib, ketika ada banyak orang yang membenci Abah, tanggapan beliau bagaimana?” Di dalam hati, saya bergumam, barangkali jawaban beliau bisa untuk saya terapkan untuk saya juga.
Salah satu jawaban Habib Lukman bin Yahya adalah, “Abah gak merdulikan mereka. Beliau pernah dawuh ‘Waktu saya akan habis kalau dibuat mengurus mereka mereka.’”
Dari jawaban beliau, tentu ini membuat saya sangat termotivasi akan sikap bijak tersebut. Karena seorang pembenci akan tetap membenci meskipun telah kita jelaskan seribu kata untuk mereka.
Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi pernah berkata,
إذا لم تجد لك حاقدا فاعلم انك إنسان فاشل
Jika tidak ada yang membencimu sama sekali, ketahuilah bahwa kamu adalah manusia yang gagal.
Juga Imam Syafi’i di saat menghadapi haters yang memfitnah beliau, beliau menyenandungkan syair
قال الإمام الشافعي : قد قيل أن الله ذو ولد… و قيل أن خير الخلق قد كھنا ! ما سلم الله من بريته ولا نبي الهدى…. فكيف أنا ؟
Telah dikatakan bahwa Allah memiliki anak. Dikatakan pula Rosululloh adalah tukang sihir! Allah tidak lepas dari fitnahnya manusia. Begitu pula Rasulullah. Lantas bagaimana dengan aku?
Dengan ini, secara tidak langsung, untaian ilmu yang disampaikan selama sembilan hari belakangan diharapkan dapat memberikan ketenangan hati bagi poro pendengarnya, meskipun Abah Lutfi berhalangan hadir.
Alhamdulillah, saya berkesempatan sowan beliau sewaktu baru datang di Pekalongan dan sewaktu hendak pulang. Beliau menitipkan salam untuk kedua orang tua saya.
Semoga diri yang masih banyak kelirunya ini diakui sebagai murid beliau. Amin amin ya rabbal alamin.
Terimakasih yaa Pekalongan wa ahlahaa. Akan saya simpan segala kenangan indah yang tak terlupakan untuk kehidupan yang akan datang.
*Penulis: Agus Abdurrahman Kafabihi. Putra KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Ketua Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri 2020-2022.
Penulis: Tim Admin
Sumber: https://aswajamuda.com/takzim-dan-husnuzhan-kepada-ulama-adalah-kunci-keberkahan-hidup/

