aswajanu
NU DAN PERGULATAN DAKWAH GLOBAL oleh Riadi Ngasiran
NU telah berdiri hingga ke-93, dalam hitungan Hijiriah. Peringatan itu dikukuhkan dalam perayaan Rajabiyah, Majalah AULA menyajikan edisi Bulan Harlah NU, “Kobarkan Spirit Komite Hijaz“. Membuktikan peran NU dalam percaturan global, berdakwah dan menunaikan “Secondtrack Diplomacy” di zaman Hindia Belanda, sebelum pembentukannya secara legal formal.
Apa maknanya, bagi kita kini?
Dapatkan segera! Hubungi Pemasaran Majalah Aula
d/a. Kantor PWNU Jatim di Jl Al-Akbar Timur 9 Surabaya
Telp. (031) 8296119 Hp. 0856 4801 5858 / 0813 3038 3529 / 0856 4846 4128
Harga langganan 6 bulan/edisi Rp. 115.000 (Luar Jawa: Rp. 140.00)
Harga langganan 12 bulan/edisi Rp. 220.000 (Luar Jawa: Rp. 270.000)
Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama – Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.
1. Jalur Imam Malik
Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)
Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).
Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama
2. Jalur Imam Abu Hanifah
Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).
Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)
Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama
Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).
Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i
Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).
Thabqah II
Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).
Thabqah III
al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).
Thabqah IV
al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).
Thabqah V
al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).
Thabqah VI
Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).
Thabqah VII
Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).
Thabqah VIII
Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).
Thabqah IX
Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).
Thabqah X
Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).
Thabqah XI
Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).
Thabqah XII
Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyar al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).
Thabqah XIII
Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).
Thabqah XIV
KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama
Ditandatangani Oleh:
Rais Am Dr. KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz
Ketua Umum Dr. KH. Said Aqil Siraj
Diterbitkan Oleh Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama
Referensi:
1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”
Islam Nusantara Menyatukan Negara dengan Agama – Oleh M Rikza Chamami
(Dosen UIN Walisongo dan mahasiswa Program Doktor Islamic Studies)
Membaca buku karya Zainul Milal Bizawie berjudul “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945)” terbitan Pustaka Compass Maret 2016 seakan kita diajak berkelana. Buku dengan tebal 559 halaman ini bukan buku biasa. Di dalamnya banyak kandungan khazanah Islam lokal, jejaring ulama, model karya ilmiah dan pewarisan keilmuan. Dan satu hal lagi, ulama sangat berperan dan mewujudkan menjaga kemerdekaan Indonesia.
Ulama dan santri, bagi Milal disebut sebagai pejuang bangsa. Laskar ulama santri membela Indonesia tidak hanya dengan emosi, tapi dengan ilmu pengetahuan, spiritual dan strategi. Ilmu yang dimiliki Kiai ditularkan pada santri dengan semangat membela tanah air dengan fatwa jihad. Demikian juga spiritual ditanamkan agar punya daya linuwih dan tidak takut dengan penjajah walau dengan senjata seadanya. Sedangkan strategi diatur sebagaimana ketika Rasulullah menghadang musuh-musuhnya.
Pengalaman yang dimiliki Pangeran Diponegoro dalam menghadang musuh bangsa diteruskan oleh para pengawal setianya dari kalangan santri. Sejumlah nama seperti Kiai Abdus Salam Jombang, Kiai Umar Semarang, Kiai Abdurrouf Magelang, Kiai Muntaha Wonosobo, Kiai Yusuf Purwakarta, Kiai Muta’ad Cirebon, Kiai Hasan Besari Tegalsari Ponorogo bersama muridnya Kiai Abdul Manan Pacitan adalah sisa pasukan perang Diponegoro yang menjadi jejaring ulama Nusantara baik lokal maupun internasional.
Tidak ada yang instan dan gratis dari proses kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Bahwa setelah perang Diponegoro, masih ada sekitar 130 pertempuran yang melibatkan kalangan pesantren demi bangsa Indonesia. Dan hingga sekarang, para santri tidak pernah meminta dicatat dalam sejarah.
Bahwa kemerdekaan ini merupakan hasil karya seluruh bangsa Indonesia, dan ulama-santri juga ikut andil. Buku inilah yang mengupas secara rinci mengenai andilnya ulama santri dalam meraih kemerdekaan.
Dan hari ini yang begitu penting adalah mempertahankan kemerdekaan dengan semangat kerukunan dan persatuan. Jadi bangsa Indonesia tidak boleh berpecah belah. Salah satu model keagamaan yang patut dan teruji menjaga keutuhan bangsa adalah Islam Nusantara.
Milal menyebutkan bahwa Islam Nusantara merupakan Islam khas Indonesia yang menggabungkan Islam teologis dengab nilai tradisi lokal, budaya dan adat istiadat Indonesia. Karakter Islam Nusantara menunjukkan adanya kearifan lokal di Nusantara yang tidak melanggar ajaran Islam, namun justru menyinergikan ajaran Islam dengan adat istiadat lokal yang banyak tersebar di wilayah Indonesia.
Islam Nusantara tidak ekstrim mengganti adzan dengan bahasa Indonesia sebagaimana pernah terjadi di Turki pada era Mustafa Kemal Attaturk. Islam Nusantara mengikuti gaya Walisongo dalam membentuk kultur Islam. Para wali yang ahli syariah dan tasawwuf mengembangkan Islam ramah yang bersifat kultural.
Inilah pintu masuk para ulama Nusantara dalam memahami kaidah fiqh (al’adah al muhakkamah, adat menjadi kebiasaan hukum). Dan dari para wali ini lahirlah lembaga pendidikan pesantren dan jejaring ulama Nusantara. Islam Nusantara menegaskan pentingnya dialektika tradisi dan sejarah. Maka pesantren mengenal sanad ilmu (jalur keilmuan) dengan mencari ilmu lewat guru dan ilmunya bersambung hingga Rasulullah Saw. Islam Nusantara sangat selektif dalam ranah keilmuan dan sangat objektif soal kebudayaan.
Dalam meraih kemerdekaan Indonesia juga demikian, para ulama bersatupadu menata keilmuan dengan membakar santri agar bela negara. Dua tokoh Syarikat Islam yang berdiri 1912 bernama Haji Samanhudi adalah santri Pesantren Buntet Cirebon dan Haji Oemar Said Tjokroaminoto adalah keturunan Kiai Hasan Besari (Pesantren Tegalsari Ponorogo).
Usaha kemerdekaan Indonesia juga bukan isapan jempol, tapi penuh dengan tirakatan dan riyadlah para Kiai. Kiai Chabullah Said (ayah KH Wahab Chasbullah). Ramalan kemerdekaan sejati sudah ditulis di Menara Masjid Pondok Induk dan baru boleh dibuka tahun 1948 setelah Kiai Chasbullah wafat. Saat dibuka ternyata ada tulisan empat huruf: ha, ra, ta dan min. Ternyata itu berbunyi hurrun tammun, kemerdekaan yang sempurna. Dan memang benar 1948 Indonesia sudah diakui merdeka oleh dunia dan agresi Belanda dipukul mundur.
Kiai Abdus Syakur Senori Tuban, temen seperjuangan KH Hasyim Asyari, yang meninggal 1940 sudah meramalkan bahwa Indonesia akan kedatangan Jepang dan akan merdeka tahun 1945 M/1361 H lewat syiir karangannya. Itulah contoh dari dua Kiai yang mempunyai ketajaman dalam melihat Indonesia di masa kemerdekaan. Dan masih banyak Kiai yang pro nasionalisme dan kemerdekaan.
Sehingga para santri di hari ini tidak akan bisa menjadikan Indonesia sebagai tanah pertarungan dan dipecah belah. Betapa usaha para ulama mendamaikan Indonesia dengan segala potensinya lewat ilmu pesantren dan hubbul wathan (cinta tanah air). Kiai Khalil Bangkalan dan Kiai Abdul Jamil dikenal sebagai pencetak laskah santri yang cinta ilmu dan kuat mengusir koloni. Bahkan ada yang namanya “Fatwa Ciremai” yang dibuat di Puncak Gunung Ciremai antara Kiai Abdul Jamil, Kiai Sholeh Banda, Kiai Said Gedongan dan Kiai Sholeh Darat. Mereke menolak usaha kolonisasi pesantren melalui politil penghulu dan mengharamkan umat Islam menjadi pegawai Belanda dan meniru pakaian Belanda.
Itulah wajah Islam Nusantara yang ada hingga sekarang dipertahankan para ulama santri. Setiap Kiai dan santri selalu sambung menyambung sanad ilmunya dan jaringannya.
Begitu indah dan luar biasa buku karya senior dan guru saya Zainul Milal Bizawie berjudul MASTERPIECE ISLAM NUSANTARA Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830-1945) ini.
Saya belum punya buku ini, tapi Promotor disertasiku Prof Abdurrahman Masud meminjami buku ini untuk kubaca. Dan kata Profesor sejarah dan kebudayaan ini, buku karya Milal sangat istimewa karena dia adalah santri tulen dan bekerja di unit penting.
Milal menegaskan bahwa: “Pesan Rahmatan lil ‘alamin menjiwai karakteristik Islam Nusantara, sebuah wajah Islam yang moderat, toleran, cinta damai dan menghargai keberagaman. Islam yang merangkul bukan memukul, Islam yang membina buka menghina, Islam yang memakai hati bukan memaki-maki, Islam yang mengajak taubat bukan menghujat dan Islam yang memberi pemahaman bukan memaksakan”. Jika kita santri, maka buku ini menjadi wajib untuk dibaca.
Jika kita adalah bangsa Indonesia yang cinta perdamaian, maka buku ini merupakan sejarah nyata kedamaian negeri Indonesia. (Rikza/Usaid)
Data Buku
Judul : Masterpiece Islam Nusantara: Sanad & Jejaring Ulama-Santri (1830-1945)
Penulis : Zainul Milal Bizawie
Penerbit : Pustaka Kompass
Cetakan : Maret
ISBN : 978-602-72621-5-7
LPTNU Jawa Timur bekerjasama dg Universitas Islam Madura – Pamekasan (16/03/16) Lembaga Pendidikan Tinggi NU Jawa Timur bekerjasama dg Universitas Islam Madura, Mengadakan Seminar Nasional dg tema peningkatan kapasitas perguruan tinggi melalui peningkatan sistem penjamin mutu internal, turut hadir dalam acara tersebut Prof. Dr. Ir. Mansur Maksum, Ph.D yang merupakan Sekretaris Badan Akreditasi Nasional-Perguruan Tinggi (BAN-PT) yg sekaligus Pengurus Pusat LPTNU bersama Prof. Babun Suharto MM adalah yang menjabat Rektor IAIN Jember yg sekaligus Ketua LPTNU Jatim, hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan dari Perguruan Tinggi se Madura, dalam seminar tersebut dibahas tuntas ttg pentingnya lembaga penjamin mutu internal (LPMI) yg akan memberikan dampak terhadap kualitas kampus dan persiapan akreditasi, menurut narasumber kalau LPMI sudah bagus insyaallah akreditasi akan mudah, beberapa peserta tampak antusias dalam acara tersebut, dan berkomentar agar acara seperti ini sering dilakukan untuk mengawal perkembangan Perguruan Tinggi NU untuk menghadapi akreditasi institusi maupun akreditasi Prodi Doelhamid/Danis
Link: http://www.moslemforall.com/lptnu-dan-universitas-islam-madura-adakan-seminar-nasional-tentang-peran-lembaga-penjamin-mutu-internal/
Syekh Samir: Wahabi Sangat Berbahaya
Surabaya — Umat Islam Indonesia harus belajar dari sengkarut yang terjadi di Timur Tengah. Jangan sampai kondisi damai yang ada di negara ini justru rusak karena hadirnya ajaran yang menyimpang, utamanya Wahabi.
Peringatan ini disampaikan narasumber utama Dauroh Aswaja Internasional lil Gawagis, Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini. “Jaga Indonesia dari pengaruh ajaran yang menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga teguh ajaran yang penuh keteduhan ini jangan sampai diganggu dengan aliran ekstrim,” katanya, Ahad (13/3).
Dengan pengantar menggunakan bahasa Arab, bagi Syekh Samir, Islam menyebar di negeri ini tanpa kekerasan apalagi pertumpahan darah. “Islam datang ke Indonesia lewat perdagangan. Dan karena akhlak pembawanya akhirnya menimbulkan simpati sehingga masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam,” ungkapnya. Selanjutnya, syekh dari Lebanon ini mengingatkan jangan sampai di negeri ini justru akan terjadi pertumpahan darah lantaran kemunculan aliran yang gemar mengafirkan antar kelompok seperti yang dilakukan Wahabi.
“Tugas (menebar kedamaian) ini ada di pondok pesantren masing-masing peserta (dauroh) untuk saling bersinergi menjaga kondisi negeri agar tetap damai,” terangnya.
Oleh karena itu, syekh yang datang dengan mengenakan farwa atau baju kebesaran berwarna kuning emas tersebut mengingatkan peserta untuk menjaga diri agar tidak mudah terpengaruh golongan Wahabi yang bertentangan dengan Aswaja. “Kita harus selalu mengingatkan akan bahaya mereka (Wahabi),” katanya dengan suara lantang.
Sebagai bukti, Syekh Samir memaparkan bahwa dalam sejarahnya mereka mengaku dirinya sebagai Salafi atau pengikut ulama salaf. “Tapi pengakuan itu adalah dusta,” sergahnya. Karena dalam perjalanannya, ketika kelompok ini menguasai sebuah negara dan akan menyatukan dalam sebuah barisan, padahal yang dilakukan adalah mengakirkan bahkan membunuh kelompok muslim lain.
“Apa yang dilakukan mereka adalah memorak-porandakan sebuah negara dan kemanusiaan,” katanya. Kepada negara dan kawasan yang dimasuki, Wahabi akan menebarkan bom, bunuh diri, takfir atau mengafirkan siapa saja yang tidak sepaham, lanjutnya.
“Untuk di Indonesia, Wahabi kerap mendirikan pesantren, lembaga kursus komputer yang di dalamnya mendoktrinkan ajaran ekstrim yang justru bertentangan dengan Aswaja,” jelasnya. Karena itu Syekh Samir menyarankan agar jangan sampai mempercayakan pendidikan dan keterampilan generasi muda kepada mereka yang justru nantinya akan menentang Aswaja.
Di akhir ceramahnya, syekh mengajak peserta untuk menirukan kalimat yang diucapkan terkait tauhid, bahwa tiada sesuatu yang menyerupai-Nya (Allah). “Allah ada tanpa tempat,” pungkasnya dengan bahasa Indonesia yang fasih. Syaifullah/Danis
Mbah Sholeh Darat dan Pendidikan Masyarakat Awam – Oleh M. Rikza Chamami
Membincang figur KH Sholeh bin Umar bin Sholeh as Samarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) tidak akan selesai dalam satu dua bulan. Banyak sisi menarik dari sosok pejuang ilmu dan Grand Syaikh ulama Jawa ini. Apalagi jika mendiskusikan karya-karya yang telah dicetak sebagai peninggalan pemikirannya.
Dari sisi ketokohan, Mbah Sholeh Darat bukan ulama biasa. Ia tergolong luar biasa karena merasakan betapa hidupnya diabadikan untuk dunia ilmu dan kebangsaan.
Dalam dunia ilmu, Mbah Sholeh dikenal sebagai sosok yang konsisten dalam mencari ilmu dari ulama yang sangat otoritatif memiliki sanad ilmu yang bersambung hingga Rasulullah. Gurunya yang ada di Jawa dan Makkah juga bukan ulama biasa, melainkan ulama besar yang memiliki kapasitas keilmuan yang luar biasa.
Dari sisi kebangsaan, sosok Mbah Sholeh Darat hadir memberikan contoh dalam menghadang kolonisasi. Itu dilakukan karena ayah Mbah Sholeh adalah pasukan perang Diponegoro yang berjuang bersama dengan Kyai Darda’ dan Kyai Sada’. Jika ayahnya melawan penjajah, Kyai Sholeh melawan penjajah dengan keilmuan.
Nalar keilmuan dan kebangsaan Mbah Sholeh menyatu menjadi keteguhan dalam membela masyarakat awam untuk tetap teguh berilmu dan berani menentang penjajah.
Meniru gaya pakaian penjajah saja bagi Mbah Sholeh itu haram. Maka para murid beliau KHR Asnawi Kudus dan KH Hasyim Asy’ari juga ikut menggelorakan haramnya memakai dasi, celana dan pakaian yang menyamai Belanda.
Dalam 13 naskah karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat yang saya miliki, semuanya disusun dengan bahasa Jawa dan huruf pegon (almarikiyyah). Secara tegas Mbah Sholeh menyatakan bahwa dengan bahasa Jawa itu akan mudah dipahami oleh orang awam.
Inilah yang menjadikan tanda nyata bahwa Mbah Sholeh hadir sebagai gurunya orang Jawa karena kitabnya dihadirkan dengan bahasa orang Jawa. Namun Mbah Sholeh masih tetap menuliskan kalimat-kalimat awalnya berasal dari bahasa Arab.
Jadi dapat diambil benang merah bahwa Mbah Sholeh masih konsisten menjaga originalitas bahasa Arab dan kemudian menerjemahkan dengan bahasa Jawa yang mudah dimengerti oleh orang awam.
Dalam kondisi penjajahan Belanda saat itu, Mbah Sholeh dengan gigihnya menerjemahkan al-Qur’an, fiqh, tauhid, tasawwuf dan lainnya. Dan ini cukup kuat meyakinkan bahwa masyarakat Jawa didorong untuk kuat dalam menguasai ilmu-ilmu agama.
Mendidik orang awam memang butuh menggunakan bahasa orang awam. Begitu pula cara Mbah Sholeh Darat mendidik orang Jawa juga dengan bahasa Jawa.
Mbah Sholeh Darat sukses menjawakan al-Qur’an dalam karyanyaTafsir Faidlu al Rahman, dengan tetap menjaga dan mencantumkan ayat al Qur’an yang aslinya berbahasa Arab. Terjemahan al Qur’an karya Mbah Sholeh juga terdapat di dalam Kitab Fashalatan yang menjelaskan ayat-ayat juz 30 untuk bacaan shalat.
Betapa indah pilihan bahasa yang dipakai oleh Mbah Sholeh dalam mendidik dan menjelaskan pada orang awam. Tidak nampak sedikitpun cara ia mendikte orang awam, karena dengan ketawadlua’annya Mbah Sholeh menyebut dirinya juga sebagai orang awam.
Cukup kita tegaskan bahwa Mbah Sholeh Darat adalah guru sejati bagi orang awam. Guru yang ingin memandaikan orang-orang di kampung agar paham agama. Ilmu yang mendalam darinya dimanfaatkan untuk mencerdaskan orang awam.
Semoga kita semua bisa meneladani dan mampu membaca karya-karya yang ditinggalkan Mbah Sholeh Darat.*)
Surabaya – Dauroh Aswaja Lil Gawagis Hadirkan Syekh dari Libanon – Pertengahan bulan Maret mendatang, PW Aswaja NU Center Jawa Timur menyelenggarakan Dauroh Aswaja Internasional Lil Gawagis se-Jawa Timur. Sejumlah narasumber dihadirkan, termasuk Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini dari Libanon.
Informasi ini disampaikan Ustadz Ahmad Nur Fauzi usai memipin rapat panitia di Kantor PWNU Jawa Timur, Selasa (9/2). Kehadiran syekh dari Libanon tersebut sebagai nilai lebih dari kegiatan dauroh yang akan diikuti para gus (gawagis) dari sejumlah pesantren di Jatim.
“Alhamdulillah atas jasa dan jaringan Aswaja yang kami miliki, akhirnya bisa menghadirkan syekh dari Libanon yakni Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini,” kata Ustadz Ahmad Fauzi, sapaan akrabnya. Yang juga membanggakan, karena kehadiran beliau tidak mengubah jadwal yang telah ditentukan panitia yakni 13 Maret 2016.
Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini dalam penjelasan Ustadz Fauzi adalah tokoh kenamaan dan juga memiliki pandangan yang sama seperti ulama mayoritas di tanah air. “Beliau juga tokoh Aswaja di Libanon, dan akan memberikan semangat kepada para gus yang hadir,” kata dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Narasumber lain yang sudah menyatakan bersedia hadir adalah KH Marzuki Mustamar, Kiai Ma’ruf Khozin, Ustadz Idrus Ramli, serta Ustadz Faris Khoirul Anam.
Ustadz Ahmad Fauzi juga mengemukakan bahwa kegiatan ini diperuntukkan bagi kalangan gus atau putra kiai dan pengasuh pesantren. “Ini bukan diskriminasi bagi mereka yang bukan dari kalangan gus,” terangnya. Pembatasan tersebut sebagai upaya untuk lebih mempermudah segmentasi kaderisasi secara sistematis, lanjutnya.
Karena dalam pandangan ketua panitia ini, kegiatan dauroh memang dibedakan sesuai latar belakang peserta. “Kita pernah menyelenggarakan dauroh Aswaja untuk tingkat guru agama, takmir masjid bahkan juga aktifis kampus,” terangnya. Dan materi yang disampaikan tentu saja menyesuaikan dengan para peserta yang mengikuti dauroh, lanjutnya.
“Dan untuk kesempatan ini, kami melibatkan para putra kiai dan penerus kepemimpinan pesantren dan pada kesempatan yang akan datang, juga diadakan kegiatan serupa untuk kalangan ning, atau putri dari para kiai,” ungkapnya.
Kegiatan ini nantinya akan diselenggarakan di PWNU Jatim, jalan Masjid Al-Akbar Timur Surabaya dengan jumlah peserta sekitar seratus orang. Panitia menyediakan seluruh kebutuhan peserta secara gratis selama kegiatan berlangsung. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi Fahmi Syaifuddin di 085731273000 atau Siti Nur Chusnul 08123519772. (syaifullah/Danis)




