Catatan
Sanad Ilmu Fikih Nahdlatul Ulama – Sanad Imam Syafi’i (w. 204 H) kepada Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama memiliki 2 Jalur, Jalur Imam Malik dan Jalur Imam Abu Hanifah.
1. Jalur Imam Malik
Imam Malik bin Anas (w. 179 H, Pendiri Madzhab Malikiyah) berguru kepada ① Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 124 H), ② Nafi’ Maula Abdillah bin Umar (w. 117 H), ③ Abu Zunad (w. 136 H), ④ Rabiah al-Ra’y (w. 136H), dan ⑤ Yahya bin Said (w. 143 H)
Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Abdullah bin Mas’ud (w. 94 H), ② Urwah bin Zubair (w. 94 H), ③ al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar (w. 106 H), ④ Said bin Musayyab (w. 94 H), ⑤ Sulaiman bin Yasar (w. 107 H), ⑥ Kharihaj bin Zaid bin Tsabit (w.100 H), ⑦ dan Salim bin Abdullah bin Umar (w.106 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Umar bin Khattab (w. 22 H), ② Utsman bin Affan (w. 35 H),③ Abdullah bin Umar (w. 73 H), ④ Abdullah bin Abbas (w. 68 H), dan ⑤ Zaid bin Tsabit (w. 45 H).
Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama
2. Jalur Imam Abu Hanifah
Imam Syafii berguru kepada Muhammad bin al-Hasan (w. 189 H), berguru kepada Abu Hanifah (w. 150 H, Pendiri Madzhab Hanafiyah), berguru kepada Hammad bin Abi Sulaiman (w. 120 H).
Berguru kepada ① Ibrahim bin Yazid al-Nakhai (w. 95 H), ② al-Hasan al-Basri (w. 110 H), dan ③ Amir bin Syarahbil (w. 104 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Syuraih bin al-Haris al-Kindi (w. 78 H), ② Alqamah bin Qais al-Nakhai (w. 62 H), ③ Masruq bin al-Ajda’ al-Hamdani (w. 62 H), ④ al-Aswad bin Yazid bin Qais al-Nakhai (w. 95 H).
Kesemuanya berguru kepada ① Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) dan ② Ali bin Abi Thalib (w. 40 H)
Kesemua Sahabat dari Rasulullah Shalla Allahu Alaihi wa Sallama
Madzhab Syafiiyah terdiri dari beberapa generasi (Thabqah).
Thabqah I Murid-Murid Imam Syafi’i
Abdullah bin Zubair Abu Bakar al-Humaidi (w. 219 H), Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Buwaithi (w. 231 H), Ishaq bin Rahuwaih (w. 238 H), Abu Utsman al-Qadhi Muhammad bin Syafi’i (w. 240 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H, Pendiri Madzhab Hanbali), Harmalah bin Yahya bin Abdullah al-Tajibi (w. 243 H), Abu Ali al-Husain bin Ali bin Yazid al-Karabisi (w. 245 H), Abu Tsaur al-Kulabi al-Baghdadi (w. 246 H), Ahmad bin Yahya bin Wazir bin Sulaiman al-Tajibi (w. 250 H), al-Bukhari (w. 256 H), al-Hasan bin Muhammad bin al-Shabbah al-Za’farani (w. 260 H).
Thabqah II
Abu Ibrahim Ismail bin Yahya al-Muzani (w. 264 H), Ahmad bin al-Sayyar (w. 268 H), al-Rabi’ bin Sulaiman (w. 270 H), Abu Dawud (w. 275 H), Abu Hatim (w. 277 H), al-Darimi (w. 280 H), Ibnu Abi al-Dunya (w. 281 H), Abu Abdillah al-Marwazi (w. 294 H), Abu Ja’far al-Tirmidzi (w. 295 H), Al-Junaid al-Baghdadi (w. 298 H).
Thabqah III
al-Nasai (w. 303 H), Ibnu Suraij (w. 306 H), Ibnu al-Mundzir (w. 318 H), Abu Hasan al-Asy’ari (w. 324 H, Imam Ahlissunah Dalam Aqidah), Ibnu al-Qash (w. 335 H), Abu Ishaq al-Marwazi (w. 340 H), al-Mas’udi (w. 346 H), Abu Ali al-Thabari (w. 350 H), al-Qaffal al-Kabir al-Syasyi (w. 366 H), Ibnu Abi Hatim (w. 381 H), Al-Daruquthni (w. 385 H).
Thabqah IV
al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani (w. 403 H), Ibnu al-Mahamili (w. 415 H), Mahmud bin Sabaktakin (w. 422 H), Abu Muhammad al-Juwaini (w. 438 H), al-Mawardi (w. 458 H), Ahmad bin Husain al-Baihaqi (w. 458 H), al-Qadhi al-Marwazi (w. 462 H), Abu al-Qasim al-Qusyairi (w. 465 H), Abu Ishaq al-Syairazi (w. 476 H), Imam al-Haramain (w. 478 H), Al-Karmani (w. 500 H).
Thabqah V
al-Ghazali (w. 505 H), Abu Bakar al-Syasyi (w. 507 H), al-Baghawi (w. 516 H), al-Hamdzani (w. 521 H), al-Syahrastani (w. 548 H), al-Amudi (w. 551 H), Ibnu Asakir (w. 576 H), Ibnu al-Anbari (w. 577 H), Abu Syuja’ al-Ashbihani (w. 593 H).
Thabqah VI
Ibnu al-Atsir (w. 606 H), Fakhruddin al-Razi (w. 606 H), Aminuddin Abu al-Khair al-Tibrizi (w. 621 H), al-Rafii (w. 623 H), Ali al-Sakhawi (w. 643 H), Izzuddin bin Abdissalam (w. 660 H), Ibnu Malik (w. 672 H), Muhyiddin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Al-Baidhawi (w. 691 H).
Thabqah VII
Ibnu Daqiq al-Id (w. 702 H), Quthbuddin al-Syairazi (w. 710 H), Najmuddin al-Qamuli (w. 727 H), Taqiyuddin al-Subki (w. 756 H), Tajuddin al-Subki (w. 771 H), Jamaluddin al-Asnawi (w. 772 H), Ibnu Katsir (w. 774 H), Ibnu al-Mulaqqin (w. 804 H), al-Zarkasyi (w. 780 H).
Thabqah VIII
Sirajuddin al-Bulqini (w. 805 H), Zainuddin al-Iraqi (w. 806 H), Ibnu al-Muqri (w. 837 H), Syihabuddin al-Ramli (w. 844 H), Ibnu Ruslan (w. 844 H), Ibnu Zahrah (w. 848 H), Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), Jalaluddin al-Mahalli (w. 864 H), Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyah (w. 874 H).
Thabqah IX
Jalaluddin al-Suyuthi (w. 911 H), al-Qasthalani (w. 923 H), Zakariya al-Anshari (w. 928 H), Zainuddin al-Malibari (w. 972 H), Abdul Wahhab al-Sya’rani (w. 973 H), Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), al-Khatib al-Syirbini (w. 977 H), Ibnu al-Qasim al-Ubbadi (w. 994 H).
Thabqah X
Syamsuddin al-Ramli (w. 1004 H), Abu Bakar al-Syinwani (w. 1019 H), Syihabuddin al-Subki (w. 1032 H), Ibnu ‘Alan al-Makki (w. 1057 H), al-Raniri (w. 1068 H), Syihabuddin al-Qulyubi (w. 1070 H), Muhammad al-Kaurani (w. 1078 H), Ibrahim al-Maimuni (w. 1079 H), Ali al-Syibramalisi (w. 1078 H), Abdurrauf al-Fanshuri (w. 1094 H).
Thabqah XI
Najmuddin al-Hifni (w. 1101 H), Ibrahim al-Kaurani (w. 1101 H), Ilyas al-Kurdi (w. 1138 H), Abdul Karim al-Syarabati (w. 1178 H), Jamaluddin al-Hifni (w. 1178 H), Isa al-Barmawi (w. 1178 H), Athiyah al-Ajhuri (w. 1190 H), Ahmad al-Syuja’i (w. 1197 H).
Thabqah XII
Abdushomad al-Palimbani (w. 1203 H), Sulaiman al-Jamal (w. 1204 H), Sulaiman al-Bujairimi (w. 1221 H), Arsyar al-Banjari (w. 1227 H), Muhammad al-Syinwani (w. 1233 H), Muhammad al-Fudhali (w. 1236 H), Khalid al-Naqsyabandi (w. 1242 H), Abdurrahman Ba’alawi al-Hadhrami (w. 1254 H), Khatib al-Sanbasi (w. 1289 H), Ibrahim al-Bajuri (w. 1276 H).
Thabqah XIII
Zaini Dahlan (w. 1303 H), al-Bakri Muhammad Syatha (w. 1310 H), Nawawi al-Bantani (w. 1315 H), Shalih Darat (w. 1321 H), Muhammad Amin al-Kurdi (w. 1332 H), Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1334 H), Mahfudz al-Tarmasi (w. 1338 H), Ahmad Khalil al-Bangkalani (w. 1345 H), Yusuf bin Ismail al-Nabhani (w. 1350 H).
Thabqah XIV
KH Hasyim Asy’ari (w. 1367 H), Pendiri Jamiyah Nahdlatul Ulama
Ditandatangani Oleh:
Rais Am Dr. KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz
Ketua Umum Dr. KH. Said Aqil Siraj
Diterbitkan Oleh Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama
Referensi:
1. Muhammad Abu Zahrah “al-Syafi’i”
2. Hadlari Bik “Tarikh Tasyri”
3. Sirajuddin Abbas “Tabaqat al-Syafi’iyah”
Syekh Samir: Wahabi Sangat Berbahaya
Surabaya — Umat Islam Indonesia harus belajar dari sengkarut yang terjadi di Timur Tengah. Jangan sampai kondisi damai yang ada di negara ini justru rusak karena hadirnya ajaran yang menyimpang, utamanya Wahabi.
Peringatan ini disampaikan narasumber utama Dauroh Aswaja Internasional lil Gawagis, Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini. “Jaga Indonesia dari pengaruh ajaran yang menyimpang dari Ahlussunnah wal Jamaah. Kita jaga teguh ajaran yang penuh keteduhan ini jangan sampai diganggu dengan aliran ekstrim,” katanya, Ahad (13/3).
Dengan pengantar menggunakan bahasa Arab, bagi Syekh Samir, Islam menyebar di negeri ini tanpa kekerasan apalagi pertumpahan darah. “Islam datang ke Indonesia lewat perdagangan. Dan karena akhlak pembawanya akhirnya menimbulkan simpati sehingga masyarakat berbondong-bondong memeluk Islam,” ungkapnya. Selanjutnya, syekh dari Lebanon ini mengingatkan jangan sampai di negeri ini justru akan terjadi pertumpahan darah lantaran kemunculan aliran yang gemar mengafirkan antar kelompok seperti yang dilakukan Wahabi.
“Tugas (menebar kedamaian) ini ada di pondok pesantren masing-masing peserta (dauroh) untuk saling bersinergi menjaga kondisi negeri agar tetap damai,” terangnya.
Oleh karena itu, syekh yang datang dengan mengenakan farwa atau baju kebesaran berwarna kuning emas tersebut mengingatkan peserta untuk menjaga diri agar tidak mudah terpengaruh golongan Wahabi yang bertentangan dengan Aswaja. “Kita harus selalu mengingatkan akan bahaya mereka (Wahabi),” katanya dengan suara lantang.
Sebagai bukti, Syekh Samir memaparkan bahwa dalam sejarahnya mereka mengaku dirinya sebagai Salafi atau pengikut ulama salaf. “Tapi pengakuan itu adalah dusta,” sergahnya. Karena dalam perjalanannya, ketika kelompok ini menguasai sebuah negara dan akan menyatukan dalam sebuah barisan, padahal yang dilakukan adalah mengakirkan bahkan membunuh kelompok muslim lain.
“Apa yang dilakukan mereka adalah memorak-porandakan sebuah negara dan kemanusiaan,” katanya. Kepada negara dan kawasan yang dimasuki, Wahabi akan menebarkan bom, bunuh diri, takfir atau mengafirkan siapa saja yang tidak sepaham, lanjutnya.
“Untuk di Indonesia, Wahabi kerap mendirikan pesantren, lembaga kursus komputer yang di dalamnya mendoktrinkan ajaran ekstrim yang justru bertentangan dengan Aswaja,” jelasnya. Karena itu Syekh Samir menyarankan agar jangan sampai mempercayakan pendidikan dan keterampilan generasi muda kepada mereka yang justru nantinya akan menentang Aswaja.
Di akhir ceramahnya, syekh mengajak peserta untuk menirukan kalimat yang diucapkan terkait tauhid, bahwa tiada sesuatu yang menyerupai-Nya (Allah). “Allah ada tanpa tempat,” pungkasnya dengan bahasa Indonesia yang fasih. Syaifullah/Danis
Semarang, (22/2) Kembangkan Pesantren RMI Jateng Buka MoU dengan Sulaimaniyyah Turki – Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama Wilayah Jawa Tengah menandatangani momerandum of understanding (MoU) dengan pesantren Sulaimaniyyah Turki. Bertempat di kantor RMI Jateng hadir pemimpin pesantren Sulaimaniyyah Indonesia Abi Ferhat Baz ditemani dengan Abi Ali Dede Pemimpin Pesantren Temanggung dan pengurus RMI Jateng. Hadir memberikan pengarahan pada kegiatan ini Rais Syuriyah PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh.
Kerjasama yang dibangun antara lain pengembangan kurikulum atau program pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di kedua belah pihak, pengiriman santri untuk belajar di Pesantren Sulaimaniyah, sosialisasi bersama program pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an di Jateng dan melaksanakan Training of Trainers (ToT) pengembangan kurikulum atau program pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an.
Sekretaris RMI Jateng Gus Mandzur Labib mengapresiasi kerjasama antara kedua belah pihak. MoU ini merupakan follow up dari silaturahim yang dibangun selama ini. Mulai dari studi banding ke pesantren Sulamaniyyah dan komunikasi intens antar kedua belah pihak.
“Kami ingin mengenalkan salah satu metode belajar al-Qur’an di pesantren Jateng,” papar Gus Labib.
Pengurus RMI Jateng memperhatikan pesantren tahfidz yang selama ini tidak begitu menjadi fokus perhatian. Harapannya dengan kerjasama ini santri yang menghafal al-Qur’an cukup dengan satu tahun sudah selesai. Selain itu, kita bisa saling berbagi pengetahuan yang bermanfaat untuk kedua belah pihak.
Gus Ubed sapaan akrab Rais Syuriyah menjelaskan bahwa pada dasarnya visi keagamaan pesantren Sulaimaniyyah tak jauh berbeda dengan NU. Kalau terdapat perbedaan di beberapa hal itu wajar saja. Salah satu keunggulan di Sulaimaniyyah ketepatan waktu yang disiplin dan beberapa budaya-budaya baik yang lain. Nah, oleh karena itu alangkah baiknya apa yang baik di Sulaimaniyyah ini kita ambil.
“Saya menyambut gembira sebagai pengawas; pengontrol dan pengarah PWNU Jateng ini. Saya senang sekali. Barangkali ini bisa menutupi kekurangan kita dan bisa ditutupi dengan mengambil keunggulan Sulaimaniyyah,” tandas Gus Ubed.
Selama ini kita belum secara maksimal mengatur tata ruang; kedisiplinan; istinja’ dan thaharah pesantren yang kita asuh. Ke depan kita perlu memperkuat keterlibatan santri dalam ikut menjaga kebersihan pesantren. Selain itu, kerjasama ini menjadi jembatan kita untuk bertukar pengetahuan. Disamping itu, adopsi yang kita ambil tak perlu pleg persis dengan Sulaimaniyyah. Kita gunakan kekhasan dan tradisi yang kita miliki untuk melengkapi apa yang kurang dari Sulaimaniyyah. (M. Zulfa/Danis)
Surabaya – Dauroh Aswaja Lil Gawagis Hadirkan Syekh dari Libanon – Pertengahan bulan Maret mendatang, PW Aswaja NU Center Jawa Timur menyelenggarakan Dauroh Aswaja Internasional Lil Gawagis se-Jawa Timur. Sejumlah narasumber dihadirkan, termasuk Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini dari Libanon.
Informasi ini disampaikan Ustadz Ahmad Nur Fauzi usai memipin rapat panitia di Kantor PWNU Jawa Timur, Selasa (9/2). Kehadiran syekh dari Libanon tersebut sebagai nilai lebih dari kegiatan dauroh yang akan diikuti para gus (gawagis) dari sejumlah pesantren di Jatim.
“Alhamdulillah atas jasa dan jaringan Aswaja yang kami miliki, akhirnya bisa menghadirkan syekh dari Libanon yakni Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini,” kata Ustadz Ahmad Fauzi, sapaan akrabnya. Yang juga membanggakan, karena kehadiran beliau tidak mengubah jadwal yang telah ditentukan panitia yakni 13 Maret 2016.
Alhabib Syekh Samir bin Abdurrahman al-Khauli al-Rifai al-Husaini dalam penjelasan Ustadz Fauzi adalah tokoh kenamaan dan juga memiliki pandangan yang sama seperti ulama mayoritas di tanah air. “Beliau juga tokoh Aswaja di Libanon, dan akan memberikan semangat kepada para gus yang hadir,” kata dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Narasumber lain yang sudah menyatakan bersedia hadir adalah KH Marzuki Mustamar, Kiai Ma’ruf Khozin, Ustadz Idrus Ramli, serta Ustadz Faris Khoirul Anam.
Ustadz Ahmad Fauzi juga mengemukakan bahwa kegiatan ini diperuntukkan bagi kalangan gus atau putra kiai dan pengasuh pesantren. “Ini bukan diskriminasi bagi mereka yang bukan dari kalangan gus,” terangnya. Pembatasan tersebut sebagai upaya untuk lebih mempermudah segmentasi kaderisasi secara sistematis, lanjutnya.
Karena dalam pandangan ketua panitia ini, kegiatan dauroh memang dibedakan sesuai latar belakang peserta. “Kita pernah menyelenggarakan dauroh Aswaja untuk tingkat guru agama, takmir masjid bahkan juga aktifis kampus,” terangnya. Dan materi yang disampaikan tentu saja menyesuaikan dengan para peserta yang mengikuti dauroh, lanjutnya.
“Dan untuk kesempatan ini, kami melibatkan para putra kiai dan penerus kepemimpinan pesantren dan pada kesempatan yang akan datang, juga diadakan kegiatan serupa untuk kalangan ning, atau putri dari para kiai,” ungkapnya.
Kegiatan ini nantinya akan diselenggarakan di PWNU Jatim, jalan Masjid Al-Akbar Timur Surabaya dengan jumlah peserta sekitar seratus orang. Panitia menyediakan seluruh kebutuhan peserta secara gratis selama kegiatan berlangsung. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi Fahmi Syaifuddin di 085731273000 atau Siti Nur Chusnul 08123519772. (syaifullah/Danis)
Yogyakarta, NU Online
Memahami Gus Dur Tergantung Imannya – KH Bukhori Masruri, salah satu santri mantan Rais ‘Aam PBNU Almarhum KH Ali Maksum, memiliki kesan tersendiri tentang gurunya ini. Ia menilai Kiai Ali termasuk sosok yang terbuka dan berpandangan luas.
Ia bercerita, suatu ketika KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berdakwah di depan para pendeta Kristen. Peristiwa tersebut menghebohkan masyarakat. Kiai Bukhori langsung menanyakan kepada Kiai Ali tentang peristiwa itu.
“Kiai Ali malah menjawab, ‘Kalau nggak Dur Rahman (Gus Dur) yang berdakwah di sana, lalu kapan para pendeta mendengarkan lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an?’” paparnya yang sontak disambut tawa hadirin.
Kiai Bukhori Masruri menyampaikan hal itu ketika memberikan taushiyah pada peringatan Haul Ke-27 al-Magfurllah KH Ali Maksum, di Krapyak, Yogyakarta, Rabu malam (17/2). Ia juga mengatakan bahwa saking luasnya wawasan, Kiai Ali tidak hanya mengajarkan kitab-kitab salaf kepada para santrinya.
“Kitab-kitab umum seperti kitab karya Hasan al-Banna yang bagi kalangan pesantren kurang familiar, diajarkan juga. Beliau juga hafal macam-macam kitab di luar kepala sampai dikatakan sebagai ‘Munjid’ (kamus) berjalan,” ujarnya Kiai Bukhori.
Kiai yang kini berdomisili di Semarang tersebut juga bercerita bahwa pada suatu ketika dirinya dan satu temannya diminta Kiai Ali untuk mencari status hukum alkohol, bukan miras, dari kitab yang berbeda. Setelah seharian mencari, akhirnya mereka menemukan juga. Menghadaplah kepada Kiai Ali Maksum.
“Teman saya menemukan bahwa hukum alkohol itu haram. Lha, saya malah menemukan hukumnya tidak haram. Tahu hasilnya seperti itu, Kiai Ali malah tertawa,” kata Kiai Bukhori yang disambut gelak tawa para jamaah yang hadir.
Dalam kesempatan tersebut, Kiai Bukhori juga mengungkapkan kalau Kiai Ali itu sangat dekat dengan para santri-santrinya.
“Kiai Ali itu sangat akrab sekali dengan santri-santrinya dan hafal nama semua santri. Saking dekatnya, para santri kalau memanggil kiai Ali itu bapak. Tidak ada kiai yang seperti itu, selain Kiai Ali,” tandasnya.
Hadir dalam acara haul tersebut KH Maimoen Zubair, Habib Husein Assegaf, KH Malik Madani, KH Idris, Dubes LBBP RI untuk Kerajaan Arab Saudi H Agus Maftuh Abegebriel, Dubes LBBP RI untuk Republik Demokratik Aljazair Hj Safira Machrusah, dan beberapa tokoh-tokoh lainnya. (Nur Rokhim/Mahbib)
Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/65871/komentar-kiai-ali-maksum-saat-gus-dur-dakwahi-pendeta
Islam Nusantara Anti Arab? Kata Siapa – Islam Nusantara tersusun dari dua kata, yaitu kata Islam dan Nusantara. Menurut Mustofa Bisri atau yang sering dikenal dengan gus Mus, Islam Nusantara dalam kajian ilmu Nahwu merupakan susunan idhafah dengan mengira-ngirakan huruf fi sehingga Islam Nusantara bermakna Islam yang ada di Nusantara.
Akhir-akhir ini terma Islam Nusantara sering kali didengar, apalagi setelah ormas Nahdlatul Ulama yang notabene ormas terbesar se-Indonesia itu mengangkatnya dalam tema Muktamar NU ke-33 di Jombang beberapa bulan silam bertajuk “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Banyak respons terhadapnya, baik yang pro maupun yang kontra. Bagi yang pro mengatakan bahwa gagasan Islam Nusantara patut diapresiasi karena ia mengakomodir nilai budaya lokal yang dalam hal ini adalah Nusantara (Indonesia). Adapun yang kontra terhadap terma ini menyatakan dengan kelakar “Islam ya Islam saja, tidak usah embel-embel Nusantara segala”.
Terma Islam Nusantara tersusun dari dua kata, yaitu kata Islam dan Nusantara. Menurut Mustofa Bisri atau yang sering dikenal dengan gus Mus, terma Islam Nusantara dalam kajian ilmu Nahwu merupakan susunan idhafah dengan mengira-ngirakan huruf fi sehingga Islam Nusantara bermakna Islam yang ada di Nusantara.
Yang perlu ditegaskan, Islam Nusantara bukan untuk mengubah doktrin Islam. Ia hanya ingin mencari bagaimana melabuhkan Islam dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. Memang Islam bukanlah budaya sebab sebagaimana dikemukakan oleh Afifuddin Muhajir, Islam itu menyangkut dua ranah, yaitu ranah ilahiah dan insaniah. Akan tetapi berhubung Islam juga dipraktekkan oleh manusia (ranah insaniah) tentu tidak dapat mengesampingkan eksistensi kebudayaan.
Sebagaimana yang sering disampaikan oleh KH. Said Aqil Siraj dalam beberapa pidato, bahwa Islam Nusantara bukanlah agama baru maupun aliran baru. Perwujudan Islam Nusantara adalah Islam faktual yang bisa dilihat secara sosiologis maupun antropologis. Keberadaannya sudah tentu berbeda dengan Islam yang ada di Arab atau yang ada di Barat. Islam Nusantara merupakan keberagamaan umat muslim yang terbangun atas dasar kondisi sosial-budaya-sejarah Nusantara yang panjang dan terbentuknya tidak Lepas dari para penyebar Islam di Nusantara utamanya para Walisongo.
Adapun menurut Gus Dur, Islam Nusantara –dengan penggunaan istilah pribumisasi Islam- bukanlah jawanisasi atau sinkretisme, sebab Islam Nusantara hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal di dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa menambah hukum itu sendiri. Juga bukan upaya meninggalkan norma demi budaya, tetapi agar norma-norma itu menampung kebutuhan-kebutuhan dari budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh variasi pemahaman nas} dengan tetap memberikan peranan kepada us}u>l al-fiqh dan al-qa>’idah al-fiqhiyyah. Islam Nusantara –atau pribumisasi Islam dalam bahasa gus Dur- tidaklah mengubah manifestasi dari kehidupan agama Islam dengan tujuan agar Islam dipahami dengan mempertimbangkan faktor-faktor kontekstual, termasuk kesadaran hukum dan rasa keadilannya.
Islam Nusantara sama sekali tidak anti Arab. Justru Islam Nusantara sangat mengakomodir Arab. Sebagai bukti, pesantren sebagai lambang dari Islam Nusantara, menggunakan kitab yang –kalau bisa dikatakan- semuanya menggunakan bahasa Arab, hanya saja agar memudahkan para santri dalam memahami kitab berbahasa Arab tersebut, maka para ulama Nusantara membuat metode “ngesahi” dengan menggunakan bahasa daerah di mana pesantren tersebut berada. Sebagai contoh, mayoritas pesantren-pesantren salaf di Jawa menggunakan metode utawi iki iku untuk membaca sekaligus memahami kitab berbahasa Arab. Selain untuk memahami makna dalam kitab tersebut, penggunaan metode tersebut juga memudahkan para santri untuk belajar ilmu tata bahasa Arab atau sering disebut ilmu Nahwu. Sebagai contoh, ketika guru membaca utawi, itu menunjukkan berarti kata tersebut kedudukannya sebagai mubtada’, iku berarti menjadi khabar, apa menjadi fa’il atau naibul fa’il, ing berarti menjadi maf’ul bih dan masih banyak lainnya.
Selain itu, tahlilan, barzanzian, diba’an, yang identik dengan Islam Nusantara semuanya juga menggunakan zikir-zikir yang masih dalam keadaan aslinya, yaitu dalam bahasa Arab. Patut diketahui bahwa Islam Nusantara bukanlah untuk mengubah doktrin-doktrin dasar Islam. Ia hanya memberikan corak yang sesuai dengan budaya Nusantara. Islam Nusantara bukan berarti shalat harus menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan kain kafan batik bagi mayit sebab hal itu terang-terang berseberangan dengan ajaran Islam. Secara sanad keilmuan, mayoritas ulama-ulama Nusantara dahulu pernah belajar ke Hijaz, bahkan mempunyai karya-karya yang ditulis dengan bahasa Arab. Sebut saja Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Mahfud Tremas, Syaikh Ihsan Jampes dan ulama Nusantara yang lain merupakan nama-nama ulama Nusantara yang tersohor di Negeri Arab. Sudah berapa banyak karya yang ditulis dan diterbitkan menggunakan bahasa Arab.
Jadi, kesimpulannya Islam Nusantara bukan Islam yang anti Arab, ia merupakan perwujudan dari Islam yang rahmatan lil ‘alamin yang dapat diterima oleh siapapun tanpa ada batasan geografis teritorial. Wallahu A’lam. (Afif Ghorsiki/Emha Yordanis)
Sumber:
Ahmad Mustofa Bisri, “Islam Nusantara, Makhluk Apakah Itu?, dalam Akhmad Sahal (ed), Islam Nusantara (Bandung: Mizan, 2015), 14.
Afifuddin Muhajir, “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”, dalam Akhmad Sahal (ed), Islam Nusantara, 65.
Abdurrahman Wahid, “Pribumisasi Islam” dalam Akhmad Sahal (ed), Islam Nusantara, 35.
Surabaya, Aswaja NU Center Jatim Semarak Maulid Nabi, 40 Tim Meriahkan Hadrah Al Banjari
Senin, (8/2) Ta’mir Masjid As-Sa’adah Keputih Sukolilo Surabaya menyelenggarakan Festival Hadrah Al Banjari se-Jawa Timur. Kegiatan yang diinisiasi oleh remaja Masjid As-Sa’adah, Ta’mir Masjid dan berbagai elemen Nahdliyyin mulai dari IPNU, IPPNU, Ansor, Fatayat, Muslimat hingga Pengurus Ranting NU Keputih. Ajang yang memperebutkan total hadiah sebesar 7,5 juta rupiah ini diikuti hingga 40 tim yang berasal dari beragam kota di Jawa Timur. Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Jombang serta Lamongan merupakan beberapa kota yang mengirimkan perwakilannya.
Festival Hadrah Al Banjari yang diadakan ini merupakan penyelenggaraan yang pertama kalinya. Hal itu sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Abdul Adhim selaku wakil ketua pelaksana. “Festival ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan oleh ta’mir Masjid As-Sa’adah Keputih,” ujarnya.
Tak hanya itu saja festival rebana ini merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh pihak ta’mir masjid dalam menyambut Maulidurrasul SAW 1437 H. Ada tiga kegiatan yang diadakan oleh pihak ta’mir. “Pertama adalah Khitanan Massal yang dilangsungkan bula Desember kemarin, sedangkan setelahnya adalah Festival Banjari ini,” jelasnya. Acara terakhir adalah pengajian bersama KH. Marzuki Mustamar yang diselenggarakan sehari setelah pelaksanaan festival banjari.
Antusiasme remaja masjid terhadap shalawat yang sangat besar menjadi dasar pelaksanaan festival banjari ini. “Selain itu untuk mengumpulkan pecinta shalawat di daerah Keputih khususnya,” imbuhnya. Meski peserta hanya dibatasi saja, ternyata jumlah pendaftar melebihi kouta yang tersedia. Alhasil banyak yang belum bisa berpartisipasi di pagelaran tahun ini. “Insyaallah akan terus diadakan tiap tahunnya. Melihat antusiasme pendaftar saat ini, besar kemungkinan pada pelaksanaan selanjutnya kouta peserta akan bertambah,” jelas alumnus Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu.
“Harapannya selepas pelaksaaaan ini, masyarakat keputih menjadi gemar bersholawat dan rasa cinta pada Rasulullah semakin kental,” jawabnya saat disinggung mengenai harapannya. Di akhir acara, diumumkan pula pemenang lomba ini, ada enam nama yang berhasil menjadi juara. Juara pertama diraih oleh As-Syafa’ah. Kemudian ada juga Zerofaza, Ar-Roudloh untuk peraih juara kedua dan ketiga. Selain itu masih ada juga An-Nuha, Nidaun Ilaih, dan Man Jadda Wa Jada untuk juara harapan satu hingga tiga. “Juara pertama akan tampil di acara pengajian bersama KH. Marzuki Mustamar besok harinya,” pungkasnya. (Hanan)




